Pelecehan Seksual Mewarnai Belimbur Erau Kukar

Samarinda – (31/7/17) Erau adalah salah satu festival budaya yang dilakukan tiap tahunnya di Kutai Kartanegara. Rangkaian ritual ini dimulai dengan beumban, begorok, rangga titi, dan berakhir dengan belimbur.

Tak hanya budaya Kutai yang tampil, berbagai belahan negara luar, baik barat dan timur juga berpartisipasi dalam Erau 2017 ini. Hal baik tentunya untuk penunjang pariwisata Kukar. Berkesempatan muncul di mata negara luar.

Belimbur merupakan tradisi saling menyiramkan air kepada sesama anggota masyarakat yang merupakan bagian dari ritual penutup Festival Erau.

Tradisi ini menjadi wujud rasa syukur masyarakat atas kelancaran pelaksanaan Erau. Selain itu, belimbur memiliki maksud filosofis sebagai sarana pembersihan diri dari sifat buruk dan unsur kejahatan. Air yang menjadi sumber kehidupan dipercaya sebagai media untuk melunturkan sifat buruk manusia.

Namun setiap kali tahun penyelenggaraan, masih saja ada tindak pelecehan seksual yang cenderung terjadi pada pengunjung perempuan. Sangat di sayangkan.

Hal ini cenderung tak di tangani serius, kenyataan nya di tahun ini pun terjadi. Kejadian yang terjadi pada hari minggu (30/7/17) kemarin sudah viral dimedia sosial. Kejadian dimana ada beberapa oknum melakukan pelecehan terhadap pengguna jalan dengan mencolek-colek kaum perempuan.

Berkiprah nya budaya Kutai di dunia internasional melalu ajang Erau, harus nya meningkat pemahaman kemanusiaan warga nya. Mengingat di belahan dunia internasional, kesadaran kesetaraan gender dan perlindungan seksualitas perempuan sangat di tinggi di perjuangan.

Akademisi Fisip Unmul Nurliah mengomentari tegas persoalan tersebut, “adat berlimbur adalah adat yang benar,tidak ada hal yang melenceng dari nilai budaya tersebut. Tapi, oknum-oknum yang melakukan hal itu mesti ditegur dan di tindak untuk segera di beri pemahaman terkait seksualitas” tandas Liah sapaan akrab nya.

“Pelecehan ini harus di tangani serius, Pemerintah Daerah harus lebih gesit memberikan kesadaran seksualitas dan kesetaraan gender. Kalau tidak ini akan berdampak negatif, baik di cara berpikir masyarakatnya ataupun perkembangan budaya Kutai dalam Erau di level nasional dan internasional” tegas Liah.

Dalam kejadian pelecehan seksual terhadap perempuan di Erau Kukar ini, persoalan nya nampak di nilai pengetahuan dan etitut masyarakat nya.

“Ketika hal ini terus dibiarkan,maka ini bisa dikatakan sebagai penistaan budaya.”pungkasnya. (Lia)

IMG_20170731_233042
Pelecehan Seksual saat Belimbur Di Festival Erau Kukar (Sumber Foto: Facebook Group Bubuhan Samarinda)

Facebook Comments