Waspada Tawaran MLM, OJK Saran Kenali Legal dan Logis

SAMARINDA – Seiring berkembangnya informasi dan teknologi. Tingkat penipuan menggunakan modus investasi yang juga tak ramai. Investasi bodong itu ditawarkan dengan bunga yang tak masuk akal namun menggiurkan.

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengendus permasalahan ini. Ketua Satgas Waspada Invetasi OJK Tongam L Tobing mengungkapkan salah satu yang paling perlu diwaspadai adalah penawaran investasi Multi Level Marketing (MLM).

Tawaran itu menjanjikan bonus yang menggiurkan dengan pola member get member.
“Total perkiraan kerugian masyarakat karena Investasi bodong mencapai Rp105,8 triliun. Pengunjungnya ya dari MLM, salah satunya,” ungkapnya saat menjadi salah satu pemateri dalam Gathering Media se-Kalimantan yang di adakan di Jakarta pada Jumat (14/09).

Seperti sudah menjadi pengetahuan umum, MLM menawarkan keuntungan yang cenderung tidak masuk akal. Namun demikian, karena penawaran keuntungan yang sangat menggiurkan, maka jenis investasi ini masih saja menimbulkan korban. “MLM itu sebenarnya penipuan, bagaimana tidak, mereka menawarkan sesuatu yang jelas-jelas tidak masuk akal,” paparnya.

Selain itu, MLM kata Tongam kerapkali menawarkan barang yang sebenarnya bukan masuk dalam kategori kebutuhan utama. “Untuk itu, kalau mereka menawarkan sesuatu barang yang tidak dibutuhkan, ya jangan dibeli,” tukasnya.

Kaltim, sendiri kata Tongam juga menjadi salah satu daerah yang rawan terjadi penipuan dari investasi bodong. “Kalau mendapatkan hal yang mencurigakan, lapor,” tutupnya.

Dirinya menjelaskan publik mesti tahu karakteristik dari investasi bodong itu. Ia menyarankan dengan istilah logis dan legal (2L). Jika ada pihak yang menawarkan MLM atau investasi sejenisnya dengan tawaran bunga yang besar. Maka, publik harus bisa menelisik legalitas dan logisnya.

“Tanyakan izinnya dan perhatian tawarannya itu logis atau tidak. Jika tidak ada maka jangan mudah tergiur,” terangnya.

Tongam mengatakan, modus investasi bodong tersebut masih diterima oleh sebagian orang karena dianggap hal yang wajar dan benar. Hal itu dikarenakan tingkat literasi dan inklusi keuangan masih rendah.

“Hal ini pula yang membuat sebagain orang masih sering tertipu,” katanya.

Makanya, dirinya menyarankan agar publik mesti disadarkan dengan pemahaman yang baik tentang literasi dan inklusi keuangan.

Selain itu, dirinya juga menyarankan agar siapapun yang mendapat tawaran investasi yang diduga bodong. Maka segera melaporkan ke pihak terkait baik itu OJK Kaltim atau pun kepolisian. (Zak)

Facebook Comments