Tiga Pemuda Kalimantan Laporkan Edy Mulyadi ke Bareskrim Polri

Tiga pemuda asal Kalimantan saat menyerahkan laporan terkait pernyataan Edy Mulyadi di Mabes Polri (IST).

Jakarta – Tiga pemuda asal Kalimantan yang tergabung dalam Forum Pemuda Kalimantan melaporkan Edy Mulyadi ke Bareskrim Polri pada, Senin (24/1/2022).

Ketiga Pemuda itu ialah,Ariyansyah NK, Michael Anggi, Kaleb Elevensi, yang di dampingi oleh Barisan Ksatria Nusantara (BKN) DKI Jakarta, beserta dengan dengan kuasa hukum, David Sitorus.Seperti diketahui, Edy Mulyadi dan salah satu kawannya yang berada di sebelah kiri Edy dalam video berjudul Bau Busuk Oligarki dan Ancaman Atas Kedaulatan di Balik Pindah Ibu Kota viral di media sosial. Kata ‘tempat jin buang anak’ yang disampaikan Edy dan ‘hanya monyet’ olah temannya tersebut, diduga melecehkan dan merendahkan masyarakat Kalimantan.

Ariyansyah yang merupakan warga Balikpapan Menyanyangkan pernyataan yang menanggangu kondusifitas dan kebihnekaan sehingga dari ucapan yang dilontarkan menuai banyak kecaman dari berbagai elemen karena dianggap menghina masyarakat yang tinggal di Kalimantan.

“Kita sangat menyayangkan pernyataan Edy Mulyadi dan salah satu kawannya yang menyebut dalam video berjudul Bau Busuk Oligarki dan Ancaman Atas Kedaulatan di Balik Pindah Ibu Kota,”imbuhnya.

Ariyansyah menambahkan bahwa jika tidak sepakat dalam pemindahan Ibu Kota Negara itu hal yang wajar namun di sampaikan dalam bentuk kritik oto kritik, namun hal ini malah memberikan komentar yang melukai warga kaltim.

“Sungguh tak mencerminkan intelektualitas. Tak sepakat dengan pemindahan ibu kota negara, silakan saja. Tapi jangan sampai bertutur kata yang tak baik, yang keluar dari konteks kritik. Apalagi sampai menyinggung banyak orang,” kata Ariyansah, usai melaporkan Edy di Bareskrim, pukul 14.30 WIB.

Menurutnya, pernyataan Edy dan kawannya itu menyakiti masyarakat Kalimantan, khususnya Kalimantan Timur. Juga mengancam persatuan dan kesatuan bangsa.

“Pernyataan Edy dan salah satu kawannya itu sungguh menyinggungg perasaan warga Kalimantan. Dalam konteks kebangsaan, ke-Indonesiaan, berpotensi menimbulkan kegaduhan, perpecahan dan merusak nilai-nilai kebangsaan serta nilai-nilai persatuan,” ujar Ariyansah, yang juga merupakan ketua Bidang Media dan Propaganda DPP GMNI.

Pelapor lainnya, Michael menambahkan, pernyataan Edy tersebut menciptakan suasana di Kalimantan tak kondusif.

“Pernyataan Edy memunculkan polemik. Menciptakan suasana tidak kondusif di Kalimantan. Ini memiliki dampak negatif. Kami berharap masyarakat tidak terpancing melakukan hal-hal atau perbuatan yang berlawanan dengan hukum atas pernyataan Edy itu,”

Mahasiswa pascasarjana UI menilai bahwa jika ada yang merasa keberatan agar bisa melaporkan ke pihak yang kepolisian untuk ditindak dengan proses hukum, hal ini juga agar menjaga kondosifitas dan memhimbau kepada masyarakat untuk mempercayakan kepada pihak Polri.

“Bila ada yang merasa keberatan dengan  pernyataan itu, dapat menempuh jalur hukum sesuai aturan yang berlaku. Seperti yang telah kami lakukan hari ini. Mari kita tetap kondusif dan mempercayakan semua kasus ini kepada Polri,” ujar mahasiswa pascasarjana UI itu.

Sementara Kaleb, pemuda asal Melawi, Kalimantan Barat menegaskan, pernyataan Edy beserta salah satu kawannya sungguh melukai hati masyarakat Kalimantan.

“Kata-kata ‘tempat jin buang anak’ oleh Edy, dan ‘hanya monyet’ oleh kawan Edy dalam video itu, merendahkan Kalimantan. Masyarakat Kalimantan,”katanya.

Aktivis Kalimantan Barat ini mengatakan bahwa laporan telah diterima oleh Bareskrim Polri dan akan ditindak lanjuti sehingga hal yang menuai kontroversi ini tidak terulang dimasa yang akan datang.

“Kami berharap, kepolisian dapat memproses laporan kami ini. Sehingga ada efek jera, dan juga sebagai pelajaran agar hal-hal seperti ini tak terulang lagi,” pungkasnya.

(Dodi)