SMPN 24 Samarinda Mau Direlokasi Tahun Depan, Pemkot Masih Susun DED 

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda, Asli Nuryadin. (Foto: Lisa/beri.id)

BERI.ID – Bertahun-tahun menjadi langganan banjir, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Samarinda, Asli Nuryadin memastikan SMP Negeri 24 akan direlokasi pada tahun 2026 dengan estimasi anggaran Rp30 miliar.

Kepastian relokasi menutup perjalanan panjang SMPN 24 yang telah berdiri sejak 1992 namun terus didera banjir, merusak citra dan menurunkan minat pendaftar.

Saat ini, Pemerintah Kota (Pemkot) mulai menyusun Detail Engineering Design (DED), melalui anggaran perubahan.

Lokasi baru itu disiapkan di lahan empat hektare milik Pemkot di Jalan Suryanata, dekat Masjid At-Taufiq.

Nantinya, kawasan tersebut akan dikembangkan menjadi pusat pendidikan terpadu, sekaligus menggabungkan SMPN 24 dengan SD 013 Samarinda.

“Sekolah itu sudah seperti mangkuk. Setiap hujan, pasti terendam. Tidak mungkin anak-anak terus belajar dengan risiko seperti itu. Relokasi adalah satu-satunya jalan,” tegasnya, Selasa (9/9/2025).

Lanjutnya, tantangan tetap ada. Pemkot masih harus mencari lokasi sementara sebelum relokasi rampung, sambil memastikan akses sekolah baru tidak memberatkan siswa.

“Kalau lokasinya jauh, anak-anak bisa kesulitan. Itu sebabnya kami berhati-hati. Tapi apa pun risikonya, sekolah ini harus dipindah. Menunda berarti membiarkan anak-anak terus jadi korban banjir,” beber Asli.

Kepala sekolah SMPN 24 Samarinda Bambang, menilai penantian relokasi hingga 2026 terlalu lama untuk murid yang setiap musim hujan harus berjibaku dengan genangan lumpur.

“Anak-anak ingin belajar normal, tapi sampai 2026 mereka tetap berada di sekolah yang rawan banjir. Ini bukan hanya soal kenyamanan, tapi soal hak dasar mereka mendapatkan pendidikan yang layak,” tegasnya.

Upaya darurat sudah bebera kali dilakukan, mulai dari pintu air ditutup seadanya, ruang kelas dibersihkan tiap kali air surut.

Namun, banjir tetap datang, melumpuhkan aktivitas belajar.

“Kalau debit air besar, tidak ada yang bisa menahan,” ucap Bambang.

Baginya, situasi ini adalah ironi. Saat pemerintah membicarakan inovasi kurikulum dan kualitas SDM, ada ratusan siswa di Samarinda yang masih belajar dengan meja kursi terendam air.

“Yang kami takutkan, terlalu lama menunggu justru membuat semangat belajar anak-anak semakin turun,” tandasnya. (lis)