Daerah  

AFF U-17 April 2026 Diincar, Kelayakan Stadion Samarinda OTW Verifikasi

Ket foto: Stadion Segiri Samarinda. (Foto: Lisa/beri.id)

BERI.ID — Kota Samarinda masuk dalam radar calon tuan rumah Piala AFF U-17 yang dijadwalkan berlangsung pada April 2026.

Hanya saja, peluang tersebut belum final.

Penentuan tuan rumah kini bergantung pada hasil verifikasi teknis yang dilakukan PSSI, termasuk kelayakan stadion, kesiapan fasilitas, hingga dukungan penyelenggaraan.

Samarinda mengusulkan Stadion Segiri sebagai venue utama, dengan Stadion Utama Kaltim di Palaran sebagai opsi pendukung.

Sementara di sisi lain, Balikpapan juga masuk dalam pertimbangan melalui Stadion Batakan, yang membuat persaingan penunjukan tuan rumah menjadi terbuka.

Kepala Disporapar Samarinda, Muslimin, mengungkapkan bahwa komunikasi dengan PSSI sudah dilakukan, bahkan tim verifikasi telah turun langsung ke lapangan untuk mengecek kesiapan fasilitas.

“Kami sudah berkoordinasi dengan PSSI, dan tim juga sudah melihat langsung kondisi stadion serta fasilitas pendukung,” tuturnya, Kamis (19/2/2026).

Namun, ia menegaskan bahwa keputusan belum di tangan daerah.

Ada sejumlah parameter yang harus dipenuhi, mulai dari standar stadion hingga kesiapan teknis penyelenggaraan.

“Penilaiannya tidak hanya stadion, tapi juga kesiapan secara keseluruhan. Hasil verifikasi itu yang menentukan,” jelasnya.

Samarinda tidak hanya dituntut memiliki stadion, tetapi juga harus memenuhi standar penyelenggaraan event internasional, termasuk aspek keamanan, aksesibilitas, hingga fasilitas penunjang seperti transportasi dan akomodasi.

Hal ini menjadi penting karena ajang AFF U-17 bukan sekadar pertandingan, tetapi juga bagian dari agenda internasional yang membawa perhatian regional.

Muslimin mengakui, masih ada sejumlah catatan yang harus dipenuhi agar Samarinda bisa benar-benar lolos sebagai tuan rumah.

“Tentu ada beberapa hal yang harus kita lengkapi. Kita masih menunggu hasil penilaian, apakah sudah memenuhi atau perlu pembenahan,” katanya.

Di sisi lain, peluang ini menjadi momentum strategis bagi Samarinda untuk naik kelas sebagai kota penyelenggara event internasional.

Jika berhasil, dampaknya tidak hanya pada olahraga, tetapi juga pada sektor ekonomi dan pariwisata.

Dengan skala turnamen Asia Tenggara, kehadiran tim, ofisial, dan suporter diperkirakan akan mendorong perputaran ekonomi lokal, mulai dari hotel, restoran, hingga transportasi.

Namun, peluang besar ini juga membawa konsekuensi besar.

Kegagalan memenuhi standar akan membuat Samarinda kembali tertinggal dalam perebutan event nasional maupun internasional.

Persaingan dengan daerah lain, terutama Balikpapan yang memiliki stadion berstandar lebih modern, menjadi faktor yang tidak bisa diabaikan.

Muslimin menegaskan, pemerintah kota tetap optimistis, tetapi realistis terhadap proses yang harus dilalui.

“Kami siap jika dipercaya, tapi tentu harus memenuhi semua syarat yang ditetapkan,” bebernya.

Saat ini, prosesnya masih di tahap verifikasi.

Jika Samarinda dinyatakan layak, kota ini berpeluang menjadi pusat perhatian sepak bola Asia Tenggara pada 2026.

Namun jika tidak, peluang tersebut bisa beralih ke daerah lain yang dinilai lebih siap. (lis)