Double Trouble Pasar Pagi Samarinda: Tangga Renggang, Tempias Bocor

Tangga renggang di Pasar Pagi Samarinda. (Foto: Lisa/beri.id)

BERI.ID – Kondisi tangga di Pasar Pagi Samarinda yang memiliki celah cukup lebar antar sisi dinilai berisiko, terutama bagi anak-anak yang berpotensi terjatuh.

Ditambah permukaan yang licin saat hujan, area ini kini menjadi titik rawan yang disorot pemerintah.

Pemerintah Kota Samarinda mengakui kondisi tersebut dan mulai menyiapkan langkah penanganan, termasuk pemasangan pembatas pengaman pada sisi tangga.

Skema pendanaan masih diupayakan, salah satunya melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR).

Asisten II Setda Samarinda, Marnabas Patiroy, menegaskan bahwa aspek keselamatan pengunjung menjadi prioritas, terutama di area tangga yang dinilai memiliki potensi bahaya.

“Pembatasnya itu jarang-jarang, jadi ada potensi anak jatuh. Ini yang kita upayakan segera ditangani,” ucapnya, Jumat (20/2/2026).

Selain persoalan tangga, masalah lain yang tak kalah krusial adalah tempias air hujan yang masuk ke dalam bangunan pasar.

Saat hujan turun disertai angin, air kerap masuk melalui sisi bangunan yang terbuka dan membasahi area jualan.

Kondisi ini berdampak langsung pada pedagang, terutama yang menjual produk tekstil, karena barang dagangan rentan rusak akibat air.

Masalah tempias bahkan telah berlangsung berulang dan menjadi keluhan utama pedagang sejak awal tahun.

Sebagian pedagang terpaksa memasang terpal dan paranet secara mandiri sebagai perlindungan darurat.

Mengenai hal itu, Pemkot Samarinda menyiapkan solusi teknis berupa pemasangan penutup fleksibel di titik-titik rawan.

Sistem ini dirancang menyerupai rolling door yang dapat dibuka dan ditutup sesuai kondisi cuaca.

“Kalau hujan bisa ditutup rapat, kalau tidak hujan bisa dibuka kembali,” jelas Marnabas.

Penanganan akan difokuskan pada sisi bangunan yang berbatasan dengan Jalan Tumenggung dan Gang Pandai, yang selama ini menjadi jalur utama masuknya air.

Namun, solusi ini juga memiliki konsekuensi.

Penutup tersebut berpotensi mengurangi sirkulasi udara di dalam gedung.

Meski demikian, pemerintah menilai langkah ini tetap diperlukan demi melindungi aktivitas perdagangan.

“Memang ada dampak ke ventilasi, tapi ini untuk menjaga barang pedagang,” katanya.

Dari sisi pembiayaan, pemasangan penutup pada bangunan utama akan menggunakan APBD.

Sementara untuk area tangga yang berisiko, pemerintah masih mengupayakan dukungan melalui CSR.

Dua persoalan ini, keselamatan tangga dan tempias hujan menjadi catatan penting dalam pengelolaan Pasar Pagi Samarinda.

Pemkot menargetkan penanganan dapat dilakukan bertahap hingga 2026, dengan prioritas pada titik yang paling terdampak. (lis)