Anggaran Terowongan Samarinda Bisa Tembus Rp522,3 Miliar, Ini Penjelasan Kontraktor

Pihak kontraktor pelaksana melalui Cost Control PT PP, Reyhan. (Foto: Lisa/beri.id)

BERI.ID – Proyek Terowongan Samarinda kembali menjadi sorotan setelah muncul rencana tambahan anggaran Rp90 miliar untuk pekerjaan penguatan lereng.

Jika penambahan tersebut benar-benar direalisasikan, maka total biaya pembangunan proyek strategis itu akan membengkak menjadi sekitar Rp522,3 miliar.

Sebab sebelumnya, pembangunan terowongan yang menghubungkan Jalan Sultan Alimuddin dan Jalan Kakap itu telah menelan anggaran sekitar Rp432,3 miliar, termasuk Rp36,3 miliar yang dialokasikan khusus untuk penanganan longsor pada Mei 2025.

Tambahan anggaran Rp90 miliar kini diajukan untuk pekerjaan penguatan struktur lereng di sekitar terowongan, yang dinilai masih memiliki risiko pergerakan tanah.

Pihak kontraktor pelaksana melalui Cost Control PT PP, Reyhan, menjelaskan bahwa estimasi biaya tersebut muncul dari perhitungan teknis berdasarkan kondisi geologi dan kemiringan lereng di area terowongan.

Ia mengatakan, pekerjaan yang direncanakan terdiri dari beberapa komponen utama yang saling terintegrasi dalam sistem penguatan lereng.

“Estimasi Rp90 miliar itu terdiri dari beberapa item pekerjaan. Yang utama adalah regrading atau pelandaian lereng di sisi inlet untuk mengurangi tingkat kemiringan,” jelas Reyhan, Senin (2/3/2026).

Selain pelandaian lereng, penguatan juga dilakukan dengan pemasangan ground anchor, yaitu sistem penahan yang ditanam ke dalam tanah untuk meningkatkan stabilitas lereng, serta waller beam, yang berfungsi sebagai pengikat antar struktur penahan.

Tak hanya itu, pekerjaan juga mencakup backfill atau penimbunan kembali di atas struktur terowongan guna memastikan distribusi beban tanah lebih stabil.

“Di sisi inlet ada regrading, ground anchor, waller beam, dan backfill. Di sisi outlet juga ada penguatan, hanya saja tidak ada regrading,” ujarnya.

Reyhan menegaskan, komponen ground anchor menjadi salah satu faktor utama tingginya estimasi biaya proyek penguatan tersebut.

“Ground anchor itu memang mahal per meternya, karena fungsinya sebagai penahan utama lereng,” katanya.

Ia menambahkan bahwa seluruh desain penguatan lereng tersebut telah melalui proses pemodelan teknis yang mempertimbangkan faktor keamanan terhadap potensi longsor.

“Secara pemodelan dan perhitungan struktur, safety factor sudah kami upayakan memenuhi,” tegasnya.

Meski demikian, Reyhan tidak memberikan jaminan mutlak bahwa tambahan pekerjaan tersebut akan sepenuhnya menghilangkan potensi longsor di masa depan.

Dalam dunia konstruksi, menurutnya, yang dapat dilakukan adalah meminimalkan risiko melalui perhitungan teknis yang memenuhi standar keselamatan.

“Yang kami lakukan adalah memastikan faktor keamanan terpenuhi berdasarkan perhitungan,” ujarnya.

Lebih lanjut ia menjelaskan bahwa desain penguatan lereng tersebut telah melalui proses asistensi dengan Komisi Keamanan Jembatan dan Terowongan Jalan (KKJTJ) sejak 2024.

“Desain ini sudah kami asistensikan sejak 2024 dan berlanjut sampai sekarang. Saat ini prosesnya digabung dengan tahapan layak fungsi,” jelasnya.

Artinya, desain penguatan lereng kini menjadi bagian dari proses penilaian menuju penerbitan Sertifikat Layak Fungsi (SLF) yang menjadi syarat sebelum terowongan dapat dioperasikan.

Namun di tengah proses tersebut, proyek masih menghadapi kendala lain, yakni persoalan pembebasan lahan.

Reyhan mengungkapkan bahwa hingga saat ini masih terdapat sekitar empat hingga lima bidang lahan di sisi inlet yang belum berhasil dibebaskan.

“Masih ada beberapa bidang lahan yang belum bebas. Jadi untuk pekerjaan lanjutan masih terkendala di situ,” ujarnya.

Kondisi ini berpotensi menghambat pelaksanaan pekerjaan penguatan lereng meskipun tambahan anggaran nantinya telah disetujui.

Selain masalah lahan, proyek juga masih menunggu proses kelayakan dari pemerintah pusat. Penilaian tersebut menjadi tahapan penting sebelum terowongan dinyatakan aman untuk difungsikan.

“Nanti setelah proses di kementerian selesai, baru bisa dinyatakan layak fungsi,” kata Reyhan.

Sementara itu, dari sisi teknis operasional, kekhawatiran terhadap dampak suara dan getaran kendaraan di dalam terowongan dinilai tidak menjadi persoalan signifikan.

“Efek suara sebenarnya tidak terlalu signifikan. Karena dari desain sudah diperhitungkan, termasuk kecepatan dan aspek lainnya,” jelasnya.

Dengan berbagai kondisi tersebut, proyek Terowongan Samarinda kini masih berada dalam fase yang belum sepenuhnya tuntas.

Di satu sisi, kebutuhan penguatan lereng telah dihitung mencapai Rp90 miliar.

Namun di sisi lain, anggaran belum tersedia, pembebasan lahan belum selesai, dan proses perizinan masih berjalan di tingkat pusat. (lis)