BERI.ID – Persoalan klasik sulitnya mendapatkan solar bersubsidi masih mencekik para nelayan di Samarinda. Kondisi ini memicu lonjakan biaya operasional yang tidak sebanding dengan hasil tangkapan, sehingga memukul produktivitas mereka.
Keluhan tersebut mencuat saat para nelayan berdialog dengan Wakil Ketua II DPRD Kalimantan Timur, Ananda Emira Moeis, di sela penyerahan bantuan mesin kapal bagi kelompok nelayan di Kelurahan Mangkupalas, Jumat (8/5/2026).
Ketua Kelompok Nelayan Taddutang Nusantara, Bahri, mengungkapkan bahwa saat ini para nelayan harus berjuang ekstra keras hanya untuk mendapatkan bahan bakar. Akibat kelangkaan di jalur resmi, mereka terpaksa beralih ke pengecer dengan harga yang sangat mencekik.
“Terkait solar ini, kami setengah mati mencarinya. Kadang-kadang nelayan terpaksa tidak melaut karena solar susah didapat dan harganya terlalu mahal,” ungkap Bahri.
Bahri memaparkan perbandingan harga yang sangat mencolok. Jika harga resmi di Pertamina hanya Rp6.800 per liter, harga di tingkat eceran kini melonjak hingga Rp20.000 per liter, naik drastis dari harga sebelumnya yang berkisar di angka Rp12.000 hingga Rp13.000.
Padahal, kebutuhan bahan bakar untuk melaut sangatlah besar. Satu mesin kapal rata-rata menghabiskan sekitar 75 liter solar untuk sekali perjalanan. “Hal ini tentu sangat memberatkan kami para nelayan,” tambahnya.
Tuntutan Pengaktifan Kembali SPBU Nelayan
Selain soal harga, nelayan juga menyoroti hilangnya akses fasilitas SPBU khusus nelayan (SPBN) di kawasan Samarinda Seberang sejak setahun atau dua tahun lalu. Bahri menyebut, fasilitas tersebut sempat ada namun tidak berlanjut karena kendala kontrak.
Meskipun sempat ada wacana pemindahan SPBU nelayan ke kawasan Selili, hingga kini janji tersebut belum terealisasi. Oleh karena itu, para nelayan menaruh harapan besar agar Ananda Emira Moeis dapat mengawal ketersediaan SPBU khusus ini.
Menanggapi jeritan tersebut, Wakil Ketua II DPRD Kaltim, Ananda Emira Moeis, menegaskan dukungannya agar fasilitas SPBU nelayan segera diaktifkan kembali. Menurutnya, akses energi yang mudah adalah kunci kesejahteraan masyarakat pesisir.
“Harapannya SPBU nelayan bisa segera beroperasi kembali, karena saat ini mereka masih kesulitan mencari solar subsidi untuk melaut,” tegas Ananda.
Politisi PDI Perjuangan ini berkomitmen untuk segera berkoordinasi dengan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) serta pihak terkait lainnya untuk mencari solusi cepat.
“Kalau akses solar mudah dan harganya stabil sesuai subsidi, tentu nelayan bisa melaut dengan maksimal dan hasil tangkapannya pun akan meningkat. Ini sangat krusial untuk menjaga produktivitas sektor perikanan di Samarinda,” pungkasnya. (Red)

