Alasan Perdagangan Helm Bekas Lazim di Samarinda

Salah satu lokasi perdagangan helm bekas, di dekat Kawasan Pasar Segiri Samarinda. (Foto: Lisa/beri.id)

BERI.ID – Perdagangan helm bekas masih menjadi pemandangan lazim di sejumlah titik Kota Samarinda.

Aktivitas ini berjalan terbuka, dengan daftar harga yang relatif stabil dan peminat yang konsisten, di tengah persoalan lama maraknya pencurian helm.

Di salah satu lapak helm bekas, harga ditentukan berdasarkan merek dan kondisi.

Helm Cargloss dengan kondisi kurang bersih dijual sekitar Rp150 ribu, sementara kondisi lebih baik mencapai Rp200 ribu.

Helm Bogo lengkap dengan pouch dilepas Rp120 ribu.

Merek GM dibanderol Rp150 ribu untuk kondisi kotor dan Rp200 ribu untuk kondisi bersih.

Untuk merek KYT, tipe sport dijual hingga Rp450 ribu, sedangkan tipe standar sekitar Rp200 ribu.

Salah satu penjual helm bekas, di dekat Kawasan Pasar Segiri Samarinda mengakui tidak semua helm bekas dapat diterima.

Helm tanpa kaca atau dengan kondisi lecet parah cenderung sulit dijual kembali.

“Kalau kondisinya seperti itu, saya tidak bisa ambil. Dijual lagi susah,” kata penjual tersebut, Jumat (16/1/2026).

Ia menjelaskan, helm KYT bekas umumnya masih memiliki pasar di kisaran Rp300 ribu, sedangkan helm MBS sekitar Rp200 ribu.

Namun, helm MBS lebih banyak dipasarkan secara daring karena peminatnya cenderung mencari produk dengan kondisi mendekati baru.

Penjual juga membenarkan bahwa ia tidak hanya menjual, tetapi juga membeli helm bekas dari masyarakat.

Ia menegaskan kondisi barang menjadi pertimbangan utama sebelum transaksi dilakukan.

Di sisi pembeli, alasan memilih helm bekas kerap berkaitan dengan faktor keamanan dan ekonomi.

Zibril (27), warga Sungai Dama Samarinda, mengaku sudah dua kali membeli helm bekas dengan merek GM, masing-masing di kisaran Rp100 ribu hingga Rp150 ribu.

Pembelian tersebut dilakukan setelah ia beberapa kali kehilangan helm.

“Sudah dua kali kehilangan. Jadi rasanya percuma beli helm baru,” ujarnya.

Zibril berpandangan, harga yang lebih murah menjadi pertimbangan utama. Ia menilai risiko kehilangan helm di beberapa kawasan masih tinggi.

“Kalau beli baru terus hilang lagi, rugi lebih besar. Kalau helm bekas, setidaknya tidak terlalu mahal,” katanya.

Zibril juga mengakui bahwa lokasi penjualan helm bekas tersebut dikenal luas sebagai tempat penadahan helm hasil pencurian. Meski demikian, ia tetap memilih membeli di sana.

“Tahu. Tapi karena sudah pernah jadi korban, akhirnya beli di situ saja,” ucapnya.

Selama permintaan tetap ada, perdagangan helm bekas terus berlangsung, baik secara langsung maupun daring, dengan pengawasan yang minim.

Hingga kini, belum terlihat upaya penertiban yang signifikan terhadap perdagangan helm bekas di ruang publik.

Kondisi tersebut membuat persoalan pencurian helm di Samarinda tak hanya menjadi masalah kriminal, tetapi juga persoalan sosial yang berkelindan dengan kebiasaan dan rasa aman masyarakat.

Berdasarkan pantauan tim redaksi, berikut ini beberapa alasan dibalik lazimnya perdagangan helm bekas di Kota Samarinda:

1. Tingginya Kasus Kehilangan Helm, membeli helm baru dianggap tidak sebanding dengan risiko hilang.

2. Harga Murah, helm bekas dijual dengan harga setengah hingga sepertiga dari harga baru.

3. Akses Mudah, lapak helm bekas juga mudah ditemukan, yang menjadi solusi instan bagi warga yang butuh pengganti cepat. (lis)