Bedah Buku “Peradaban Not Just Civilization”, JMSI Gelar Forum Mahkamah Intelektual

BERI.ID – Sebuah forum intelektual dengan format unik bertajuk “Mahkamah Intelektual” digelar di Hall Dewan Pers, Jakarta, Senin (22/6/2026), bertepatan dengan perayaan HUT ke-499 DKI Jakarta. Forum yang difasilitasi oleh Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) ini bertujuan membedah buku terbaru karya Adhie M. Massardi berjudul “Peradaban Not Just Civilization”.

​Tidak sekadar membedah isi buku, forum ini juga menguji gagasan-gagasan Adhie Massardi, sosok yang dikenal luas sebagai mantan juru bicara Presiden ke-4 RI, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur).

​Acara dibuka oleh Ketua Umum JMSI, Teguh Santosa, dan dimoderatori oleh wartawan senior Hersubeno Arief. Tiga tokoh bangsa didapuk sebagai pembahas utama, yakni Ketua Dewan Pers Prof. Komaruddin Hidayat, mantan Ketua BPIP Prof. Yudi Latif, serta budayawan Mohammad Sobari.

​Turut hadir dalam forum tersebut sejumlah tokoh nasional, antara lain mantan Panglima TNI Jenderal (Purn) Gatot Nurmantyo, mantan Sekretaris Kementerian BUMN Muhammad Said Didu, peneliti senior BRIN Prof. Siti Zuhro, serta mantan Menkominfo Rudiantara.

​Dalam paparannya, Adhie menjelaskan bahwa bukunya lahir dari perenungan mendalam mengenai arah pembangunan nasional menuju visi Indonesia Emas 2045. Baginya, pembangunan tidak cukup hanya bersifat fisik, melainkan harus menyentuh sisi kemanusiaan.

​“Saya menulis deskripsi soal peradaban sebagai dasar untuk membentuk ‘Manusia Emas’ Indonesia. Bangsa ini belum pernah melahirkan manusia yang berhati dan bermartabat emas, terutama di kalangan para pemimpinnya,” ujar Adhie.

​Gagasan ini berawal saat ia berdiskusi dengan Menteri HAM Natalius Pigai mengenai substansi visi Indonesia Emas 2045. Adhie, yang kini menjabat sebagai Tenaga Ahli Menteri bidang Kebudayaan, menekankan pentingnya penghormatan terhadap hak asasi dan aspirasi warga negara sebagai prasyarat peradaban yang maju.

​”Jika kita tidak menghormati rakyat sendiri, bagaimana mungkin dunia internasional akan menghormati kita? Peradaban harus dibangun di atas budaya yang memuliakan harkat dan martabat manusia,” tegasnya.

​Menanggapi pertanyaan mengenai minimnya referensi tekstual dalam bukunya, Adhie menegaskan bahwa karyanya merupakan hasil kontemplasi murni atas realitas sosial. Ia menyayangkan kecenderungan banyak pemikir yang hanya mengandalkan referensi buku tanpa berani melakukan kontemplasi atas kondisi nyata.

​Adhie juga menyoroti fenomena Artificial Intelligence (AI). Menurutnya, teknologi harus diposisikan sebagai alat untuk meningkatkan martabat manusia, bukan justru menjatuhkannya.

​Sebagai penutup, Adhie meluncurkan konsep “Mahkamah Intelektual” sebagai wadah bagi publik untuk memperdebatkan gagasan secara terbuka. Ia berharap tidak ada lagi ide yang dibungkam oleh kekuasaan, dan sebaliknya, setiap kebijakan pemerintah harus diuji melalui perdebatan publik yang sehat.

​“Hari ini kita memulai peradaban baru dengan keterbukaan. Mahkamah Intelektual menjadi ruang agar setiap gagasan tidak dikubur tanpa suara, sekaligus memastikan ide-ide terbaik lahir dari perdebatan intelektual yang terbuka demi masa depan bangsa,” pungkas Adhie. (Red)