Kata Om Fahmi Harus Semangat Di Negara Yang Katanya “Merdeka”

BONTANG – Perayaan hari kemerdekaan Republik Indonesia ke-75 sudah berlalu di dua hari yang lalu. Namun semaraknya masih terasa hingga sekarang.

Start-up masih mengendorse jasa pelayan jagat hiburan agar produknya di iklankan oleh para artis papan atas ini. Di televisi dan sosial media masih dipenuhi iklan penjualan promosi spesial hari kemerdekaan.

Dengan wajah yang bahagia, para artis ini menggambarkan betapa bahagianya menjadi warga di Republik ini.

Sudah bahagiakah kita menjadi rakyat di bumi yang kaya dengan rempah-rempah serta sumber daya alam ini ?.

Pertanyaan itu di jawab oleh seorang musisi jalanan, Hio Fahmi namanya. Berstatus sebagai seorang pegiat seni, dirinya memandang berbeda ceremony kemerdekaan tahun ini.

Menurut dia, Ini perayaan kemerdekaan yang paling menyedihkan. Karena kita saat ini dalam masa Pandemi, kemerdekaan menurutnya harus menjadi motivasi untuk berbuat lebih.

Bertindak lebih nyata, adalah bentuk kemerdekaan yang sejati. Saat berlangsungnya kemerdekaan, masih ada masyarakat yang menyodorkan kotak sumbangan untuk korban kebakaran di Rawa Indah, pekan lalu.

“Padahal, ketika kita teriakkan ‘MERDEKA’, maka sudah tidak ada lagi yang seperti itu,” kata Fahmi sapaannya di tongkrongan, (18/8/20)

Menurut pria berusia 57 tahun ini, kita ini menginvestasikan kekayaan sumber daya alam kita untuk hampir semua pengusaha di seluruh dunia. Sementara rakyat masih harus tidur jam 3 Pagi, dan bangun jam 6 pagi buat cari rejeki untuk mengisi piring nasi hari ini.

Namun, Kita dipaksa untuk senang dan berbangga hati dengan keadaan yang seperti merdeka saat ini.

“Bontang ini ada dua perusahaan besar, tapi kamu liat sendirikan. Di lampu merah anak-anak komunitas masih nyodorin kotak ke pengendara lain, buat nolong orang lain,” ucap Fahmi.

Di akhir, dirinya berpesan kepada seluruh rakyat Indonesia untuk tetap bersemangat dalam menjalani hidup yang katanya “Merdeka” ini. Berbuat baik kepada orang lain, cara belajar untuk merasakan kemerdekaan.

“Berbuat saja. Yang penting tingkah dan keputusanmu jangan mengambil hak orang yang masih hidup dibawah levelnya yang sarapan pakai sendok dan garpu (rakyat ekonomi rendah),” tutupnya.

(Esc)

4,82 Ton Kopi Indonesia Ekspor ke Cina

Belum Buka Sambungan Baru, Masyarakat Dihimbau Waspadai Oknum Mengatasnamakan Perumda Tirta Kencana