Pasar Pagi Ramai, Pedagang di Tempat Lama Justru Mengaku Lapak Sepi

Lapak di Pasar Pagi Samarinda. (Foto: Lisa/beri.id)

BERI.ID – Wajah baru Pasar Pagi Samarinda memang berhasil menarik perhatian.

Bangunan yang lebih modern, tertata, dan “instagramable” membuat arus pengunjung melonjak, terutama selama Ramadan, hingga pasca lebaran saat ini.

Transaksi bergerak cepat, lapak-lapak terisi, dan geliat ekonomi terlihat hidup.

Hanya saja, di balik keramaian itu, faktanya terdapat penurunan tajam di titik dagang lama yang sebelumnya menjadi pusat aktivitas.

Hal itu disampaikan Pedagang konveksi Pasar Pagi Samarinda, Jufriansyah, yang merasakan langsung dua realitas yang berjalan bersamaan ini.

Di Pasar Pagi baru, menurut dia, penjualan meningkat signifikan.

“Penjualan meningkat, bisa sekitar 50 sampai 60 persen dibanding hari biasa,” bebernya, Rabu (25/3/2026).

Tetapi di lokasi lamanya, kondisi justru berbalik arah.

“Kalau dulu pagi-pagi sudah penuh, sekarang jauh sekali penurunannya. Pengunjung ke toko bisa turun sampai 50 persen,” tegasnya.

Pertumbuhan atau Sekadar Perpindahan?

Angka-angka ini mengungkap satu hal penting, yang terjadi bukan sepenuhnya pertumbuhan, melainkan perpindahan arus belanja.

Uang yang sebelumnya berputar di satu kawasan kini terkonsentrasi di lokasi baru.

Dampaknya, bukan semua pedagang menikmati peningkatan, sebagian justru kehilangan pasar.

Revitalisasi tidak sepenuhnya menciptakan ekonomi baru, tetapi menggeser pusat transaksi secara cepat dan masif.

Artinya, pertumbuhan yang terlihat bukanlah pertumbuhan baru, melainkan perpindahan pembeli dari satu titik ke titik lain

“Dulu masih bisa 80 sampai 90 persen dari Pasar Pagi lama. Sekarang tinggal setengahnya,” ungkap Jufriansyah.

Daya Tarik Baru, Daya Hidup Lama Menurun

Tidak bisa dipungkiri, Pasar Pagi baru memiliki magnet yang kuat.

Bangunan yang lebih layak dan modern memicu rasa penasaran masyarakat.

Pengunjung datang, melihat, lalu berbelanja.

Kebutuhan pakaian Lebaran meningkat, dan produk konveksi menjadi salah satu yang paling diburu, dengan harga mulai Rp250 ribu hingga Rp600 ribu.

Namun konsekuensinya jelas ketika satu titik menjadi magnet baru, titik lama perlahan kehilangan daya tariknya.

“Orang datang karena tertarik lihat bangunannya. Tapi setelah itu, mereka belanja,” jelasnya.

Adaptasi Jadi Batas Antara Bertahan dan Tertinggal

Dalam situasi ini, kemampuan beradaptasi menjadi penentu.

Pedagang yang lebih cepat membuka lapak di Pasar Pagi baru mampu menangkap peluang.

Sementara yang belum berpindah, mulai merasakan tekanan.

Jufriansyah sendiri mengaku tidak menyangka pasar akan bergerak secepat ini.

Namun tidak semua pedagang memiliki kesiapan yang sama, baik dari sisi modal, strategi, maupun keberanian mengambil risiko.

Dan di titik inilah revitalisasi mulai berubah makna, bukan sekadar pembangunan, tapi juga proses seleksi ekonomi.

“Awalnya kami tidak berekspektasi tinggi, karena ini baru. Tapi ternyata pembeli langsung datang,” katanya.

Omzet Terbagi, Keramaian Tidak Lagi Merata

Perubahan ini bukan hanya soal lokasi, tetapi juga soal distribusi keuntungan.

Aktivitas ekonomi yang sebelumnya terkonsentrasi di satu kawasan kini terpecah, namun dengan dominasi kuat di Pasar Pagi baru.

Akibatnya, titik lama tidak hanya sepi, tetapi juga kehilangan momentum yang selama ini menjadi penopang utama pendapatan pedagang.

“Pengunjung sekarang sudah terbagi, tapi lebih banyak ke sana,” ujarnya.

Revitalisasi yang Menyisakan Pertanyaan

Secara angka, Pasar Pagi baru memang menunjukkan hasil positif.

Dalam waktu singkat, omzet pedagang sudah mencapai sekitar 40–50 persen dibanding kondisi pasar lama.

“Untuk kondisi baru dan waktu yang pendek, ini sudah sangat baik,” beber Jufriansyah.

Untuk itu, Pasar Pagi memang hidup kembali.

Tapi pada saat yang sama, kehidupan di titik lain mulai meredup.

Revitalisasi ini bukan sekadar pembangunan, melainkan pergeseran.

Dan dalam pergeseran itu, tidak semua pedagang ikut bergerak maju.

Sebagian mendapatkan momentum, sebagian lain mulai kehilangan pasar. (Lis)