Sewa Tembus Rp1,7 Juta, Pedagang Ramadan Bertaruh Hidup dari Sebulan Jualan

Pedagang wadai tradisional seperti amparan tatak di Pasar Ramadan GOR Segiri Samarinda. (Foto: Lisa/beri.id)

BERI.ID – Denyut ekonomi Pasar Ramadan di kawasan GOR Segiri Samarinda kembali ramai setiap sore, dengan puluhan pedagang memadati lapak, menawarkan beragam takjil hingga makanan tradisional.

Hanya saja di balik ramainya transaksi, ada tekanan biaya yang terus meningkat dan pedagang kecil harus bertaruh pada satu momentum dalam setahun.

Biaya sewa lapak saat ini mencapai sekitar Rp1,7 juta per petak, menjadi beban awal yang harus ditanggung pedagang, bahkan sebelum mereka memperoleh keuntungan.

Kenaikan ini jauh berbeda dibandingkan awal mula pasar Ramadan digelar bertahun-tahun lalu.

Inur, salah satu pedagang wadai tradisional, seperti amparan tatak dan sejenisnya, menjadi saksi perubahan tersebut.

Ia sudah lebih dari 20 tahun berjualan, dan sekitar 10 tahun terakhir rutin membuka lapak di Pasar Ramadan GOR Segiri.

“Dulu awal di Citra itu sewanya cuma Rp2.500, naik jadi Rp3.500, Rp5.000, sampai sekarang sudah Rp1,7 juta satu petak,” bebernya, Senin (23/2/2026).

Bagi pedagang seperti Inur, lonjakan biaya tersebut tidak diimbangi dengan kepastian pendapatan.

Sebab, mereka hanya memiliki waktu sekitar satu bulan untuk menutup seluruh biaya, mulai dari sewa, bahan baku, hingga tenaga produksi.

Berbeda dengan pedagang harian, Inur hanya menjual kue tradisional saat Ramadan.

Di luar bulan puasa, ia beralih usaha menjual pakaian.

“Kalau hari biasa jual baju. Kue ini cuma pas Ramadan saja,” katanya.

Artinya, pasar Ramadan bukan sekadar tambahan penghasilan, melainkan sumber utama untuk memenuhi kebutuhan dalam satu bulan.

“Alhamdulillah cukup saja buat makan sebulan,” ucapnya.

Di lapaknya, Inur menjual berbagai jenis wadai khas Banjar seperti amparan tatak, putri selat, kararaban, hingga sari pengantin.

Semua resep merupakan warisan keluarga yang dijaga turun-temurun.

“Ini dari orang tua. Kami keluarga yang bikin semua,” tuturnya.

Produksi kue dilakukan secara kolektif oleh anggota keluarga.

Dalam satu hari, mereka bisa membawa lebih dari 40 loyang, bahkan mendekati 50 loyang jika digabung dengan kerabat lain.

Jumlah produksi ini menunjukkan besarnya skala usaha, sekaligus risiko yang harus ditanggung.

Jika tidak habis, kerugian menjadi konsekuensi yang tidak bisa dihindari.

Salah satu produk yang paling laku adalah amparan tatak.

Dalam satu hari, jenis ini bisa terjual hingga beberapa loyang, sementara kue lain lebih bergantung pada selera pembeli.

“Yang paling laris amparan tatak, bisa sampai beberapa loyang sehari,” ujarnya.

Harga jual pun bervariasi.

Untuk satu loyang, rata-rata dijual sekitar Rp150 ribu, sedangkan jika dipotong menjadi beberapa bagian bisa menghasilkan sekitar Rp180 ribu per loyang.

Sementara untuk jenis tertentu seperti bingka, harga bisa mencapai Rp30 ribu per potong.

Meski terlihat menjanjikan, pedagang harus menutup berbagai biaya produksi yang tidak sedikit, mulai dari bahan baku yang cenderung naik hingga tenaga kerja keluarga yang harus bekerja sejak pagi.

Di sisi lain, faktor cuaca, jumlah pengunjung, hingga daya beli masyarakat sangat menentukan hasil penjualan.

Dalam kondisi tertentu, omzet bisa turun drastis.

Situasi ini menunjukkan bahwa pedagang Pasar Ramadan berada dalam posisi yang cukup rentan.

Mereka mengeluarkan modal besar di awal, namun pendapatan sangat bergantung pada kondisi harian.

Pasar Ramadan pun menjadi semacam “taruhan ekonomi” tahunan bagi pedagang kecil.

Dalam waktu terbatas, mereka harus mampu mengembalikan modal sekaligus mendapatkan keuntungan untuk menopang kebutuhan hidup.

Kenaikan biaya sewa lapak menjadi salah satu isu yang mulai dirasakan pedagang.

Jika tidak diimbangi dengan peningkatan daya beli, margin keuntungan akan semakin tipis.

Di tengah tekanan tersebut, Inur tetap memilih bertahan.

Baginya, pasar Ramadan bukan sekadar tempat berdagang, tetapi bagian dari tradisi sekaligus peluang ekonomi yang tidak bisa dilewatkan.

“Setahun ini saja yang kami harapkan. Kalau di sini bagus, ya cukup,” pungkasnya. (lis)