Zonasi Grosir Diperketat, Pasar Pagi Diarahkan Jadi Alternatif Tanah Abang

Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Kota Samarinda, Marnabas Patiroy. (Foto: Lisa/beri.id)

BERI.ID – Desain Pasar Pagi sejak awal dirancang sebagai pasar ekonomi (econ market) yang tertata dan memiliki daya tarik lintas daerah.

Untuk itu, Asisten II Sekretariat Daerah (Setda) Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, menyebut bahwa pasar ini ditata dengan sistem, klaster, dan magnet belanja yang jelas.

Zonasi Berbasis Fungsi: Fondasi Ikon Pasar

1. Lantai dasar disiapkan untuk parkir.
2. Lantai 2 diisi ikan, ayam, dan komoditas campuran.
3. Lantai 3 dan 5 difokuskan pada konveksi.
4. Lantai 4 menjadi klaster emas.
5. Lantai 6–7 diperuntukkan khusus grosir.

Ia menegaskan, grosir adalah magnet belanja bagi konsumen dari Berau, Kutim, dan Kukar karena harga kompetitif dan jaringan distribusi yang sudah terbentuk.

“Ini bukan pasar biasa. Kita ingin Pasar Pagi punya sistem, klaster, dan magnet belanja. Karena itu zonasinya jelas,” ucapnya, Kamis (5/2/2026).

Miskomunikasi Awal dan Penertiban

Hanya saja, ia mengakui pada fase awal terjadi miskomunikasi teknis, grosir tersebar di lantai 2–4, sementara eceran sempat naik ke lantai atas.

Hal itu merusak sistem zonasi.

Karena itu, kebijakan diluruskan, grosir diarahkan ke lantai 6–7 dan eceran diturunkan ke lantai bawah, tidak ada lagi eceran di lantai 7.

Tercatat 512 pedagang grosir diminta menempati lantai 6–7.

Fasilitas lift, eskalator, dan tangga telah disiapkan sehingga akses dinilai memadai.

“Promosi juga jadi enak kalau klasternya rapi. Kalau campur, grosir dikejar orang, eceran mati,” bebernya.

Teknis Lapak dan Kesalahan Manusiawi

Soal teknis lapak, ia menegaskan tidak ada perubahan struktur.

Grosir di atas berukuran 3×3 (lebih lebar), eceran di bawah 2×2, dengan variasi 4×4 dan 4×8 untuk ruko tertentu yang bersertifikat.

Kesalahan pembagian data diakui sebagai kekeliruan manusiawi dan dibenahi secara humanis.

Pedagang diberi kesempatan memilih posisi di lantai atas.

Tahap kedua penempatan akan dipresentasikan ke Wali Kota, sementara Disdag bertindak sebagai pelaksana.

“Kami pelaksana. Keputusan di pimpinan,” tegasnya.

Bukan Soal Retribusi tapi Efek Domino

Marnabas menepis anggapan penataan hanya mengejar retribusi.

“Biaya operasional pasar sekitar Rp7–8 miliar per tahun, sementara retribusi tertinggi sekitar Rp5 miliar dan bisa Rp3–4 miliar di luar parkir,” jelasnya.

Pemerintah, katanya, tidak berpikir untung retribusi, melainkan mengejar efek domino ekonomi, perputaran uang, penciptaan lapangan kerja, serta hidupnya sektor hotel, kuliner, dan oleh-oleh.

“Kalau satu pedagang mempekerjakan satu orang saja, itu sudah puluhan ribu orang bekerja. Itu belum kalau dua-tiga orang,” tambahnya.

Tarik Wisata Belanja dan Integrasi Kota

Pasar Pagi ditempatkan Pemkot dalam peta destinasi belanja tematik Samarinda, emas di Pasar Pagi, ikan dan sayur di Segiri, pernik-pernik di Citra Niaga, pakaian grosir di Pasar Segiri, dan barang premium di pusat perbelanjaan.

Tujuannya menarik orang datang dan berbelanja di Samarinda.

Rencana atraksi kota seperti bianglala di Teras Samarinda juga disinggung sebagai magnet kunjungan dengan tarif yang akan disubsidi agar ramah publik.

“Bukan cari untung dulu. Yang penting orang datang, efeknya ke mana-mana,” katanya.

Penertiban Penyewa dan Anti-Fitnah

Pemkot juga menertibkan penyewa tanpa hak dan klaim palsu.

Dua kasus yang mengaku pemilik namun menyewakan ke pihak lain telah ditarik.

“Tunjukkan bukti, kami tindak. Jangan fitnah,” tegasnya.

Prioritas pertama adalah menempatkan pedagang yang benar-benar berdagang dan memiliki Surat Keterangan Tempat Usaha Berjualan (SKTUB).

Pedagang lama yang belum berizin akan didata dan ditempatkan secara manusiawi.

“Mereka rakyat Samarinda,” ujarnya.

Angka Kios dan Arah Akhir

Data terakhir menyebut sisa kios tersedia sekitar 700-an unit, pemegang SK sekitar 505, bertambah menjadi 577 setelah penertiban.

Selain itu ia meminta semua pihak menahan diri dari viral yang tidak proporsional.

“Bangunan selalu punya titik lemah. Yang penting struktur aman dan solusi jalan. Kita ini sedang membangun ikon kota,” pungkasnya. (lis)