Dari Kritik Menjadi Inovasi, Produk Pangan Lokal Mahakam Ulu Tampil Percaya Diri di Gelar TTG Kaltim

Kualitas produk, Kelompok Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman Kabupaten Mahakam Ulu berhasil berbenah hingga mampu menampilkan produk pangan olahan berbasis potensi lokal pada Gelar Teknologi Tepat Guna Ke-XII Tingkat Provinsi Kalimantan Timur.

MAHULU – Berawal dari berbagai masukan dan kritik terhadap kualitas produk, Kelompok Beragam, Bergizi, Seimbang, dan Aman (B2SA) Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu) berhasil berbenah hingga mampu menampilkan produk pangan olahan berbasis potensi lokal pada Gelar Teknologi Tepat Guna (TTG) Ke-XII Tingkat Provinsi Kalimantan Timur.

Keikutsertaan tersebut menjadi bukti bahwa inovasi yang lahir dari desa mampu memiliki nilai ekonomi sekaligus memperkenalkan kekayaan pangan lokal Mahulu ke tingkat yang lebih luas.

Di stan pameran Gelar TTG Ke-XII yang digelar di Taman Budaya Sendawar, Kabupaten Kutai Barat, Kelompok B2SA asal Kampung Mamahak Besar menghadirkan beragam produk olahan pangan berbahan baku lokal. Produk tersebut merupakan hasil proses pengembangan yang dilakukan secara bertahap melalui berbagai evaluasi dan pembinaan.

Ketua Kelompok B2SA Mahakam Ulu, Tini, mengatakan peningkatan kualitas produk tidak diraih secara instan. Berbagai kritik yang diterima justru menjadi motivasi bagi kelompoknya untuk terus melakukan perbaikan, mulai dari kualitas produk hingga kemasan.

“Seiring waktu kualitas produk kami terus meningkat. Banyak masukan dan kritik yang kami terima sebagai bahan evaluasi. Berkat proses tersebut, kami akhirnya mendapat kesempatan mengikuti Gelar TTG tahun ini,” ujarnya, Selasa (21/7/2026).

Selain memperkenalkan keripik berbahan pelepah pisang, Kelompok B2SA juga membawa Stik Masik, camilan berbahan dasar ikan lokal yang menjadi salah satu produk unggulan mereka.

Tini menjelaskan, nama Masik diambil dari bahasa Bahau yang berarti ikan. Penamaan tersebut dipilih sebagai upaya memperkenalkan identitas budaya lokal sekaligus menegaskan bahwa seluruh bahan baku berasal dari Kampung Mamahak Besar.

“Seluruh ikan yang digunakan merupakan hasil tangkapan nelayan di Kampung Mamahak Besar. Kami tidak membeli bahan baku dari luar daerah sehingga kualitas dan kesegarannya tetap terjaga,” katanya.

Ia menambahkan, proses produksi dilakukan secara mandiri oleh anggota kelompok, mulai dari memfilet hingga memisahkan daging ikan. Cara tersebut dilakukan untuk memastikan kualitas produk tetap terjaga serta memenuhi aspek keamanan pangan.

Dalam pengembangan usaha, Kelompok B2SA juga mendapat pendampingan dari Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Mahakam Ulu. Melalui pembinaan tersebut, kelompok diharapkan memperoleh dukungan peningkatan kapasitas, termasuk bantuan peralatan produksi.

“Saat ini kami berada di bawah binaan Dinas Ketahanan Pangan Kabupaten Mahakam Ulu. Kami direncanakan akan menerima bantuan peralatan untuk mendukung pengembangan usaha, meski hingga kini belum diserahkan,” ungkapnya.

Bagi Tini, keikutsertaan dalam Gelar TTG bukan sekadar memasarkan produk, tetapi juga menjadi sarana belajar untuk melihat berbagai inovasi dari daerah lain yang dapat diterapkan sesuai potensi Mahakam Ulu.

“Harapan kami melalui Gelar TTG ini adalah memperoleh pengalaman dan inspirasi dari berbagai inovasi kabupaten dan kota lain. Kami ingin terus mengembangkan produk-produk baru yang bermanfaat serta memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi,” tuturnya.

Ke depan, Kelompok B2SA juga tengah mengembangkan inovasi baru berupa abon berbahan dasar jantung pisang hutan. Menurut Tini, bahan tersebut melimpah di Kampung Mamahak Besar, namun belum dimanfaatkan secara optimal sebagai produk pangan bernilai tambah.

“Saat ini saya sedang mencoba mengembangkan olahan dari jantung pisang hutan. Potensi bahan bakunya sangat melimpah dan kami berharap dapat menjadi produk unggulan berikutnya yang mampu meningkatkan nilai ekonomi masyarakat,” pungkasnya.

Exit mobile version