BERI.ID – Revitalisasi Gedung Pasar Pagi Samarinda yang baru saja difungsikan seperti diketahui masih menyisakan persoalan teknis serius, contohnya saja dari hujan deras yang mengguyur Kota Tepian pada awal 2026 dan memperlihatkan kelemahan pada struktur bangunan, setelah air hujan dilaporkan masuk hingga ke dalam area pasar akibat tempias dari sisi luar gedung.
Pasar yang diharapkan menjadi pusat perdagangan modern justru diuji oleh kondisi cuaca ekstrem hanya beberapa bulan setelah proses serah terima bangunan dilakukan pada November 2025.
Dalam beberapa kejadian hujan deras pada Januari lalu, air dilaporkan sempat masuk hingga ke dalam lorong pasar.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) pembangunan Pasar Pagi Samarinda, Hendra Irawan, mengatakan pemerintah kota saat ini masih mencari formulasi teknis yang paling efektif untuk mengatasi persoalan tempias tersebut.
Ditegaskan PPK itu, pembahasan telah dilakukan bersama Dinas Perdagangan Kota Samarinda dan sejumlah instansi terkait guna memastikan solusi yang diambil tidak bersifat sementara.
“Kami sedang mencari bentuk penanganan yang paling memungkinkan agar air hujan tidak lagi masuk ke dalam area pasar,” ujarnya, Sabtu (7/3/2026).
Salah satu alternatif yang sedang dipertimbangkan adalah menambahkan sistem penutup pada bagian tertentu bangunan yang menjadi jalur masuknya tempias hujan.
Sistem tersebut dirancang menggunakan mekanisme geser sehingga dapat dibuka maupun ditutup sesuai kondisi cuaca.
“Konsepnya nanti semacam penutup yang bisa digeser. Ketika hujan deras dan tempiasnya cukup besar, bagian itu bisa ditutup sementara untuk melindungi area dalam pasar,” jelasnya.
Namun hingga saat ini rencana tersebut masih berada pada tahap uji coba desain.
Pemerintah kota terlebih dahulu menyiapkan model percobaan atau mock-up untuk memastikan sistem tersebut benar-benar efektif sebelum dipasang secara permanen.
Hendra menegaskan bahwa pihaknya tidak ingin terburu-buru mengambil keputusan tanpa melalui pengujian yang matang.
“Sekarang masih tahap percobaan desain. Kami ingin melihat dulu apakah sistem itu benar-benar efektif sebelum dipasang di seluruh area yang terdampak,” katanya.
Selain persoalan teknis, implementasi perbaikan juga masih menunggu kepastian pembiayaan.
Pemerintah kota belum menghitung secara rinci kebutuhan anggaran maupun luas area yang akan dipasangi sistem penutup tersebut.
“Untuk anggaran dan cakupan pemasangannya memang belum dihitung secara detail. Saat ini fokus kami masih pada tahap pengujian konsepnya dulu,” tambahnya.
Sama konsepnya seperti Taman Balai Kota, saat ini Gedung Pasar Pagi juga masih berada dalam periode pemeliharaan proyek yang berlangsung selama enam bulan sejak serah terima pada November 2025.
Dalam masa tersebut, berbagai persoalan teknis yang muncul setelah bangunan digunakan masih menjadi bagian dari tanggung jawab evaluasi proyek.
Hendra berharap para pedagang dapat memahami proses tersebut karena pemerintah kota sedang berupaya mencari solusi yang benar-benar efektif dan berkelanjutan.
“Harapannya tahun ini bisa segera ditindaklanjuti. Nantinya kami akan memprioritaskan lantai-lantai yang sebelumnya paling terdampak tempias,” tutupnya. (lis)
