Generasi Milenial Mesti Aktif Ditahun Politik, Upgrade Demokrasi Pasca Reformasi

SAMARINDA – Segmen bonus demografi menjadi salah satu pertimbangan partai politik untuk menghadapi tahun politik 2019. Ramai bermula propanda politik yang mengalir dalam dunia maya, media sosial berbasis internet dan teknologi itu menjadi arena aktif pertarungan propaganda yang menyasar generasi melenial.

Bonus demografi yang di predeksi 2020 -2030 mendatang, berpeluang membangun karaktek politik yang baru. Pancasila sebagai Ideologi bangsa di giring dalam arena praktis, beradaptasi dengan cara hidup kekinian (media sosial di gunakan aktif usia angkatan kerja produktif, 15-64 tahun).

Istilah pemilih pemula untuk usia 17-22 tahun dan pemilih pemuda untuk usia 17-30 tahun menjadi“komoditi” yang diperebutkan oleh partai politik.

Jika sejarah 1998 melihatkan anak muda / peserta didik perguruan tinggi menjadikan jalanan sebagai arena pengambil keputusan atas dasar kondisi darurat ekonomi politik, atau biasa di sebut “parlemen jalanan”. Gelombang politik yang membuka lembar demokrasi kala itu sangat menguntungkan perjalanan nya hingga kini.

Partisipasi yang tumbuh di arena politik (keterlibatan anak muda) sangat mewarnai praktis demokrasi Indonesia sekarang. Meskipun tidak pada satu gagasan, sentimen melenial kerap efektif jadi magnet tindakan bernuansa merubah paradigma lama.

Baca Juga :  Kegiatan HUT PDI Perjuangan ke - 48 Raih 3 Rekor Muri

Bonus demografi ini di pahami oleh Achmad Sofyan pembina UMKM Wisata Belanja Kaltim (Wisbel) stadion sempaja, sebagai jalan kunci tatanan masyarakat yang baru.

“Generasi yang tumbuh dari demokrasi yang terus di upgrade, hingga akrab dengan teknologi informasi ini jelas memori segar membangun tatanan masyarakat baru,” jelas nya.

Iya mencontohkan, dulu kalau mau berdagang mesti punya tempat tetap dengan jangkauannya terbatas pastinya, kalau sekarang lewat teknologi informasi yang dominan di geluti anak muda menjadi area sosial baru yang bisa bertransaksi apa aja.

“Jumlah pedagang Online sekarang lebih banyak dari jumlah pedagang pasar,” Ucap Sofyan, pria kelahiran Martapura ini pemuda melenial yang turut serta berkompetisi di calon legislatif Kota Samarinda.

Di usia produktif 39 tahun nya, Sofyan memilih menjadi komoditas aktif dengan membina kelompok pedagang berpola pasar mingguan. Berkontribusi membina kelompok dagang ini pilihan baginya, untuk menangkap lonjakan pengangguran akibat lemah nya ekonomi daerah hingga defisit 2017 lalu.

Baca Juga :  Awang Tunjuk Hidung Paslon Yang Di Nilai Menggunakan Money Politic

Iya mengaku, menjadi bagian generasi pemuda yang turut aktif menggerakan sistem sosial masyarakat suatu hal yang menyenangkan. “dengan usia seperti saya sekarang ini merasa jadi bagian kebahagian orang lain itu punya nilai kepuasan tersendiri,” ungkapnya.

Empati kemanusiaan yang cenderung besar di miliki generasi pemuda saat ini, terlatih dari proses demokrasi Indonesia yang terus berkembang. “seperti aliran musik indie yang di gemari generasi pemula sekarang ini, hampir rata-rata liriknya bicara nilai-nilai kemanusiaan,” ucap Sofyan.

Dengan sistem keterwakilan politik yang dipilih langsung oleh masyarakat seperti sekarang ini, mendorong partai politik juga trus bertransisi karakternya. Wajah – wajah baru pemimpin di Nusantara kini, mendorong keyakinan pemuda bahwa perubahan bukan cerita dongeng pendahulu. Untuk itu pemuda mesti bersumbangsih lebih besar mempercepat jalan perubahan.

“Dengan prediksi melonjak hingga 180 juta jumlah usia produktif (15-64 tahun) di 2020 – 2030 kedepan, lonjakan 70 % dari jumlah penduduk ini gelombang besar yang bisa membangun tatanan jadi lebih baik, lebih manusiawi,” jelas Sofyan sapaan akrab alumnni 1998 Fisip Unmul ini.

Baca Juga :  KPU Tetapkan Hasil Rekapitulasi Nasional, PDI Perjuangan Kokoh di Puncak

Jika Jokowi di nilai wajah baru politik Indonesia, bukan hanya karirnya melainkan juga gaya kepemimpinan serta produk kebijakannya. “Kita pemuda milik Republik ini jangan segan mengabdikan apapun yang terbaik untuk mengawal perubahan yang di mulai oleh Presiden Jokowi,” Ucap Sofyan.

Namun pemuda juga tidak boleh keblinger, dengan keistimewaan bonus demografi generasinya. Jika tak terkelola dengan baik lonjakan ini, justru jadi tsunami demografi.

“Dulu hanya jutaan rakyat dan pemuda-i mampu memberikan reformasi, prediksi 180 juta bonus demografi ini harus jadi gelombang kemanusiaan, yang memanfaatkan teknologi menuju perubahan”. Ucap Sofyan di sela pendaftaran diri nya sebagai bakal calon legistalif dari Parti Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). (Red)

What do you think?

Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

Loading…

0

Tenggat Tiga Hari Sudah Usai, Pilkada Kaltim Tak Ada Gugatan

PLN Tak Komit Kawal Tahapan Pilgub, Listrik Padam Aktivitas Kerja KPU Kaltim Mandek