Indonesia Darurat Kesehatan Mental

Oleh: Ikzan Nopardi, Mahasiswa Psikologi Fisip Unmul 2018

Beri.id, OPINI – Sehat sering kali dipersepsikan dari segi fisik saja. Padahal sehat juga berarti tentang kesehatan jiwa. Sayangnya, persoalan kesehatan jiwa masih dianggap kalah penting dibandingkan kesehatan fisik.

WHO (World Health Organization) mendefinisikan Kesehatan yaitu kesejahteraan dimana seseorang dapat menyadari kemampuan dirinya, mengatasi tekanan kehidupan, bekerja secara produktif, dan memberikan kontribusi pada lingkungan sekitar.

WHO menyebutkan, anak muda alias generasi milenial saat ini lebih rentan terkena gangguan mental. Terlebih masa muda merupakan waktu di mana banyak perubahan dan penyesuaian terjadi baik secara psikologis, emosional, maupun lingkungannya. Selain perubahan hidup, Di era yang serba teknologi juga turut berkontribusi terhadap kesehatan mental generasi milenial.

Media sosial seolah-olah sudah menjadi kebutuhan primer kita sekarang karena percaya atau tidak sumber dari segala informasi ada di gadget kita masing-masing. Hal inilah yang menciptakan tekanan dan beban pikiran pada generasi muda.

Menurut WHO, banyak kasus yang tidak tertangani sehingga bunuh diri akibat depresi menjadi penyebab kematian tertinggi pada anak muda usia 15-29 tahun. Gangguan mental bukan hanya pada tubuh dan pikiran tapi juga pada seluruh sistem. Apa yang terjadi ditubuh terjadi dipikiran, dan sebaliknya.

Solusi Mengatasi Terjadinya Gangguan Mental

Meskipun topik diatas sedikit mengerikan, bukan berarti tidak ada cara untuk mengatasinya. Dengan cara berinteraksi dengan orang-orang yang mendukung dan peduli terhadap kita, orang yang memiliki empati, bukan dengan orang yang suka mengkritik kekurangan orang lain. Selain itu juga bisa berkonsultasi dengan psikolog untuk mengetahui gejala-gejala gangguan mental. Dan yang paling penting hilangkan stigma orang yang pergi ke psikolog itu gila.

Selain cara mengatasi terjadinya gangguan mental, lebih baik mencegah hal tersebut sedini mungkin, dengan self love, self talk, dan menerima kelebihan dan kekurangan diri kita dengan mensyukurinya. Berpikir kritis akan suatu permasalahan dengan bagaimana dan mengapa, memfilterisasi apa yang orang lain katakan daripada langsung menerimanya sebagai kebenaran.

Namun permasalahannya, hanya sedikit sekolah atau perguruan tinggi yang mengajarkan siswa atau mahasiswa untuk berpikir kritis. Sekolah atau perguruan tinggi selalu berorientasi pada nilai dan prestasi belajar sehingga terlalu banyak tugas dan PR yang harus mereka kerjakan. Ditambah dengan budaya kompetisi yang tidak sehat yang dikembangkan oleh sekolah atau perguruan tinggi. Siswa ataupun mahasiswa dituntut untuk selalu jadi yang terbaik sementara caranya,silahkan cari saja sendiri.

Rentetan kesibukan yang padat itu tentu saja merupakan beban yang sangat berat untuk mereka pikul. Mereka melihat guru ataupun dosen sebagai momok yang sangat menakutkan karena merasa paling pintar dan tahu segalanya. Jika ada siswa atau mahasiswa yang membantah, maka guru ataupun dosen akan mengeluarkan jurus sakti mantraguna yang diwarisi dari zaman feodal yaitu “yang tua selalu benar”. Sehingga jika membantah maka ia akan dicap sebagai orang yang tidak menghormati orang yang lebih tua.

Tak heran banyak kasus bunuh diri yang dialami remaja khususnya mahasiswa diakibatkan oleh stress akademik dan lingkungannya. Karena mereka tidak mendapatkan haknya seperti mendapatkan perhatian, meminta perlindungan, melakukan apa yang mereka sukai, kebebasan berekspresi dan berpendapat serta berinteraksi dengan orangtua mereka.

Dalam konteks emosi negatif seperti sedih, kecewa, marah, dan lain-lain. MINDFULNESS atau suatu sikap kesadaran penuh akan diri saat ini, Berfokus pada apa yang sedang dijalani saat ini dan melakukan yang terbaik untuk menuai timbal balik yang memuaskan dimasa depan hadir secara mental.

Biarkan kesedihan atau emosi negatif itu hilang dan mengizinkannya berlalu dengan sendirinya. Dengan tidak memikirkannya. Jangan biarkan perasaan sedih dan emosi negatif mengambil alih kehidupan dan masa depanmu.

Ciri utama pesimis adalah bahwa mereka cenderung percaya bahwa peristiwa-peristiwa buruk akan bertahan lama, akan merusak segala sesuatu yang mereka lakukan, dan kesalahan mereka sendiri. Para optimis yang dihadapkan dengan pukulan keras yang sama dari dunia ini, berpikir tentang kemalangan dengan cara yang berlawanan. Mereka cenderung percaya bahwa kekalahan hanyalah kemunduran sementara.- Martin Seligman “Father Of Positive Psychology” 

Setiap harus bertanggung jawab akan kesehatan mentalnya masing-masing, Atas kebahagiannya masing-masing. Senang, sedih, dan semuanya adalah peristiwa mental yang tidak berlangsung selamanya.

Kesadaran akan hal tersebut membawa kita pada perspektif lain bahwa dengan mendiamkannya pun semua akan baik-baik saja. Berpikir kritis dan mindfulness menjadi jembatan untuk menjaga keseimbangan dari kesehatan mental.  

 

Oleh: Ikzan Nopardi, Mahasiswa Psikologi Fisip Unmul 2018.

Anggota Himpunan Mahasiswa Psikologi FISIP Unmul

What do you think?

Comments

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Bank Kaltimtara Torehkan Prestasi Baik Pada Triwulan III 2019

Dianggap Hilangkan Keberagaman, FPPD Minta Pemerintah Mahakam Ulu Revisi Perda Tentang Logo