beri.id

Ini Alasan Kenapa Budaya Literasi Di Kaltim Rendah

SAMARINDA – Kaltim menjadi salah wilayah dengan tingkat literasi rendah. Hal ini jika dibiarkan akan tergerus laju zaman. Abad 21 ini perkembangan informasi dan teknologi tak bisa dibendung. Sudah mestinya dilakukan pembenahan untuk mengimbangi gerak zaman. Hal ini terungkap dalam Dialog Pendidikan, Gerakan Literasi dan Kompetensi di Pendidikan Abad 21, Jumat (31/08).

Wakil Ketua Komisi X DPR RI Hetifah Sjaifudin mengatakan rendahnya budaya literasi di Kaltim disebabkan beberapa keterbatasan. Semisal, belum ada rule model yang jelas. Budaya literasi tidak diajarkan sejak dini sehingga dalam pertumbuhannya anak menjadi terbiasa malas baca. Selain itu, ketersedian bahan bacaan juga sangat minim. Akses masyarakat terhadap bahan bacaan seperti buku-buku juga sangat kurang. “Bahkan bahan bacaan yang menyenangkan, jarang kita temui. Padahal, itu sangat menarik minat orang membaca,” ungkap Hetifah.

Kadang kala, isian dari bahan bacaan pun tidak sesuai minat. Sehingga tak selera membaca. Apalagi bahan bacaan tersebut tidak di update. “Orang jadi malas itu wajar, karena syaratnya tidak terpenuhi,” tutur dia.
Tak hanya itu, Kaltim juga punya kendala geografis punya pengaruh terhadap minim budaya literasi. Misalnya, distribusi bahan bacaan seperti buku ke pelosok-pelosok yang memakan tenaga dan biaya besar. Ditambah akses sulit. Sementara permasalahan lain, akses masyarakat terhadap internet untuk mendapat e-book juga masih sulit terjangkau untuk wilayah pinggiran. Jadi memang masih sulit.

Dijelaskannya, kategori bahan bacaan untuk setiap usia pun berbeda. Masing-masing usia punya isian dan konten bacaan yang berbeda. “Bagi bahan anak-anak mesti dibuat moderen. Semacam digital book yang bisa menggerakan minat mereka. Ada interaktif dari si pembaca, dengan bahan bacaannya,” tuturnya.
Kendati demikian, kata dia semangat membangun budaya literasi terus dibangun untuk mengimbangi perkembangan informasi dan teknologi di abad 21. Karena, biar bagaimana pun perkembangan zaman sangat dinamis.
“Kita warga Kaltim tidak membangun budaya literasi. Maka akan ketinggalan dengan laju zaman. Kita tidak bisa menahan laju zaman. Kita harus bisa mengimbangi. Atau bahkan menciptakan inovasi dan temuan-temuan baru untuk bersaing dengan daerah atau bangsa lain,” tegasnya.

Untuk itu, politisi Golkar ini menyarankan agar menghidupkan kembali komunitas-komunitas gerakan literasi perlu dimasifkan. Selain lewat gerakan sosial, keterlibatan pemerintah juga menjadi penting dalam mereformasi tempat-tempat bacaan seperti perpustakaan dan lainnya.
Perpustakaan, kata Hetifah tidak hanya menjadi ruang untuk menyimpan ratusan bahkan ribuan buku-buku di rak. Tapi perlu dibangun ruang literasi debat, diskusi, bedah buku, belajar menulis dan lainnya. Sehingga ada interaktif antar sesama. “Perpustakaan harus menciptakan ruang-ruang itu,” tutup Hetifah. (Zak)