Mengenal Wakil Bupati Mahulu, Dari Anak Petani Hingga Kenakan Korpri

Beri.id, SAMARINDA – ‘Usaha tidak pernah mengkhianati hasil’, kata-kata itu sepertinya tepat untuk di kaitkan dengan cerita pengalaman hidup Yohanes Juan Jenau, Yakni seorang Wakil Bupati Mahakam Ulu (Mahulu) Kalimantan Timur (Kaltim) periode 2019 – 2020.

Dari cerita yang di sampaikannya. Y Juan Jenau. Perjalanan hidupnya tidaklah mudah ia lalui begitu saja hingga menjadi seperti ini. (Wakil Bupati).

keluarga yang bisa di katakan sederhana, Y Juan Jenau dengan 13 saudaranya tentu harus berbagi hidup yang serba kekurangan.

Namun tidak begitu saja dirinya menyerah hanya karena permasalahan ekonomi keluarganya.

Lahir di Desa Naha Aruq, Kecamatan Long Pahangai, Kabupaten Mahakam Ulu (Mahulu), pada 20 Desember 1959 silam. Kini usia Y Juan Jenau Hampir setengah Abad tetapi semangatnya terlihat seimbang dengan hasilnya.

Anak dari pasangan Jenau Aran dan mendiang Hipui Anyeq ini punya rasa bersyukur atas hidup. JJ dalam panggilan akrabnya tidak pernah mengatakan nyerah dalam setiap proses yang ia lalui.

Bahkan, JJ menunjukan giatnya dalam bersekolah sambil bekerja. Tentu hasilnya juga pasti akan sesuai yang akan di raihnya melihat keras usaha beliau.

Perjalanan hidup JJ diceritakannya setelah ia lulus sekolah dasar (SD) di Long Pahangai pada 1973,

Yang Kemudian Lulus di SMP Khatolik, Kecamatan Tering, Kabupaten Kubar tahun 1977.  Sempat bingung ingin melanjutkan ke jenjang SMA lantaran ekonomi keluarga yang kurang. JJ semp at berfikir untuk tidak melanjutkan. Namun tekad dan niat selalu ada jalan yang terbaik untuk akhirnya lY Juan Jenau mengenyam pendidikan di SMA Khatolik, Jalan WR Soepratman, Samarinda. Dan selesai menamatkan SMA pada tahun 1981

bermodal niat dan tekad saat melanjutkan masa pendidikan SMA nya. JJ sempat menjadi buru pengangkut serbuk gergaji dengan upah yang tak seberapa. Namun lagi-lagi JJ mengucap syukur

Namun semua harus dia lakukan agar tidak membebani kedua orang tuanya.

Setamatnya JJ dari Jenjang Pendidikan SMA nya di tahun 1980, JJ sempat memilih untuk pulang kekampung halamannya. Tidak seperti anak lainnya yang melanjutkan pendidikan keperguruan tinggi (Perkuliahan). Y Juan Jenau justru tidak mengambil pilihan tersebut.

Bahkan JJ juga sempat mencoba untuk mengabdikan diri menjadi pastor, namun nasib tidak berpihak JJ harus gagal pada prosesnya. Rupanya jalan lain memberikan kesempatan pada Y. juan Jenau (JJ) untuk mencapai impiannya saat itu.

Setelah gagal menjadi pastor, Pihak Gereja rupanya membuka Beasiswa seleksi masuk Perguruan Tinggi. Walaupu saat itu jurusannya hanya untuk Guru.

Tanpa pikir panjang lantas JJ kemudian mengikuti seleksi tersebut. Dan akhirnya mampu lolos dari seleksi untuk masuk Perguruan Tinggi Sanata Dharma sleman Yogyakarta pada tahun 1981 dan langsung diberangkatkan Pihak Gereja.

Saat itu JJ mengambil jurusan sastra inggris. Y. Juan Jenau berhasil menamatkan Jenjang Sarjananya pada tahun 1985. Yang kemudian dirinya kembali ke Samarinda dan mengabdi sebagai tenaga Pengajar di Yayasan Katolik.

“Karena saya diberikan beasiswa oleh gereja, oleh Yayasan Katolik, saya diminta mengajar di kota, tetapi saya enggak mau. Pada 1985 itu, saya masih cukup muda. Tapi saya pikir untuk pulang kampung saja, saya ditugaskan di pedalaman. Saya mengajar di SMPK Tering,”  ucapnya.

Memulai karir sebagai Guru pada tahun 1985 hingga 1999. Bahkan Y. juan Jenau juga sempat dipilih menjadi Kepala STM Santo Yosep Tering. Yang akhirnya JJ mengakhiri prosfesinya sebagai tenaga pengajar (Guru) pada tahun 2000.

Pada tahun 1997 JJ sudah mengambil pilihan lain yaitu terjun ke arena politik. Langkah tersebut dikatakan JJ bukan tanpa alasan yang tepat. Dirinya mengaku bahwa untuk bisa memimpin suatu daerah memang harus melalui atau melibatkan diri pada jalur politik.

Pada masa itu Y. Juan Jenau memulai keterlibatan Politiknya melalui Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). terbukti dia dan Fransiskus Xaverius Yapan lolos menjadi anggota DPRD Kutai tahun 1999.

“Ketika itu Kawan sejawat seperti Fransiskus Xaverius Yapan yang belakangan menjadi bupati Kutai Barat (Kubar) dan Syaharie Jaang (wali kota Samarinda), JJ sama-sama berjuang dan merintis PDI Perjuangan di Kabupaten Kutai (sekarang sebagai Kabupaten Kutai Kartanegara).” Jelasnya.

“menurut saya pendidikan itu penting sekali, moto hidup saya pendidikan, memutus mata rantai kemiskinan.” tutupnya (Arm/*).

What do you think?

Comments

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Pesut Muda, Nahusam FA U-13 Juara Nasional

Sarosa Hamongpranoto: Samarinda Sebagai Penyangga IKN Harus Didukung Komitmen Pemimpinya