Menonton “Pesta Babi”: Ketika Kebijakan Memunggungi Alam dan Kesejahteraan

Abdur Rachman Wahid (ist)

Kita sering kali memandang krisis lingkungan atau ketimpangan sosial sebagai rangkaian nasib buruk yang kebetulan. Kita mengutuk dampaknya, tetapi jarang berani menunjuk hidung akarnya. Namun, setelah kredit film Pesta Babi mulai tayang dilayar, ada satu kesadaran tidak nyaman yang dipaksakan masuk ke dalam kepala kita: tidak ada yang kebetulan dari sebuah kerusakan. Semuanya adalah produk dari kebijakan yang sengaja memunggungi alam.

Pesta Babi bukan sekadar tontonan visual atau drama fiksi yang berupaya memancing air mata. Bagi saya, film ini adalah sebuah cermin retak yang diletakkan tepat di depan wajah publik dan para pembuat kebijakan. Ia membuka mata kita lebar-lebar bahwa penderitaan ekologis dan sosial yang terjadi di sekitar kita—yang digambarkan secara satir sekaligus getir di dalam film—adalah dampak langsung dari keputusan-keputusan di atas kertas bermaterai yang melupakan bumi dan manusianya.

Potret Metafora Pesta Babi

Sepanjang film, kita disuguhkan dengan metafora “pesta” yang rakus, sebuah alegori sempurna tentang bagaimana pembangunan sering kali diartikan sebatas angka pertumbuhan ekonomi. Dalam kejar-kejaran angka tersebut, alam diperlakukan layaknya prasmanan gratis yang bisa dikuras habis tanpa perlu diisi kembali.

“Film ini dengan jitu memotret bagaimana kebijakan yang tidak berpihak pada alam pada akhirnya akan menagih bayaran yang sangat mahal dari manusia itu sendiri.”

Ketika regulasi longgar dan eksploitasi diizinkan atas nama ‘kemajuan’, yang terjadi bukanlah kesejahteraan merata, melainkan sebuah pesta pora segelintir elit yang menyisakan ampas bagi masyarakat kecil. Pesta Babi dengan jitu memperlihatkan ironi ini: mereka yang paling sedikit menikmati hasil “pesta” adalah mereka yang paling pertama dan paling parah menanggung akibatnya.

Kesejahteraan yang Dikorbankan

Perspektif paling kuat yang dihadirkan oleh film ini adalah runtuhnya pilar kesejahteraan masyarakat kelas bawah akibat kebijakan yang abai. Kebijakan yang tidak ramah lingkungan selalu berjalan beriringan dengan peminggiran ruang hidup manusia.

  •  Hilangnya Ruang Hidup: Tanah-tanah adat atau wilayah kelola rakyat yang beralih fungsi demi industri berskala besar.
  • Kerentanan Sosial: Masyarakat yang kehilangan mata pencaharian tradisional dan dipaksa menjadi penonton di tanah mereka sendiri.
  • Krisis Ekologis: Krisis air bersih, polusi, dan bencana ekologis yang dianggap sebagai “biaya sampingan” (externalities) yang wajar dalam pembangunan.

Pesta Babi secara radikal menggugat narasi tersebut. Film ini menegaskan bahwa tidak ada kesejahteraan sejati jika ia dibangun di atas tanah yang sekarat dan air yang beracun.

Publik Melek Bareng

Naratif yang dibangun dalam Pesta Babi adalah sebuah peringatan keras. Publik tidak boleh lagi sekadar menjadi penonton pasif yang menerima narasi “pembangunan demi kemaslahatan” tanpa mempertanyakan siapa yang sebenarnya diuntungkan.

Setiap banjir, setiap konflik agraria, dan setiap sejengkal tanah subur yang hilang adalah bukti otentik dari kebijakan yang salah arah. Jika para pembuat kebijakan terus memperlakukan alam sebagai komoditas tanpa batas dan kesejahteraan rakyat sebagai variabel sekunder, maka kita sedang berjalan bersama menuju kebangkrutan ekologis.

Pada akhirnya, Pesta Babi adalah sebuah seruan untuk bangun dari tidur nyenyak. Film ini membuka mata kita bahwa menyelamatkan alam dan memperjuangkan kesejahteraan bukanlah dua hal yang terpisah. Keduanya adalah satu koin yang sama, yang hari ini sedang digadaikan melalui kebijakan-kebijakan yang serakah. Dan tugas kita, sebagai publik yang telah dicelikkan matanya, adalah memastikan bahwa pesta egois tersebut harus segera dihentikan.


Ditulis oleh Abdur Rachman Wahid (Bendahara Pengda JMSI Kaltim).

Opini Merupakan Tanggung Jawab Penulis, Tidak menjadi Tanggung Jawab Redaksi Beri.Id