PUPR Samarinda Akui Desain Gedung Pasar Pagi Tak Perhitungkan Kemungkinan Tempias Hujan

Lantai enam bangunan Pasar Pagi baru yang sebelumnya terdampak hujan lebat. (Foto: Lisa/beri.id)

BERI.ID – Genangan air yang muncul di lorong lantai enam Pasar Pagi Samarinda saat ini masih dihadapkan dua persoalan, antara keindahan visual bangunan dan fungsi dasar yang semestinya melindungi aktivitas ekonomi di dalamnya.

Keluhan pedagang yang lapaknya terdampak tempias hujan justru berhadapan dengan fakta bahwa persoalan tersebut sejak awal tidak masuk dalam perencanaan teknis bangunan.

Masalah ini mencuat setelah hujan disertai angin kencang membuat air masuk dari sisi terbuka gedung, menggenangi area depan lapak pedagang.

Alih-alih sekadar persoalan teknis sederhana, kondisi itu ternyata bersinggungan langsung dengan pertimbangan estetika bangunan Pasar Pagi Baru yang selama ini dijaga ketat.

Kepala Dinas PUPR Samarinda, Desy Damayanti, mengakui bahwa desain awal gedung memang tidak menghitung secara khusus kemungkinan tempias hujan dari samping akibat dorongan angin besar.

Ia menyebut, dari sisi struktur dan perencanaan, kondisi tersebut berada di luar asumsi awal karena tidak terjadi secara rutin.

“Ada perencanaan yang memang secara struktur kami tidak menghitung posisi air hujan ketika ada angin besar. Itu tidak terjadi setiap hujan, sehingga dari awal memang tidak direncanakan,” ujar Desy, di Kantor DPRD Kota Samarinda, Senin (5/1/2026).

Namun persoalan menjadi lebih kompleks ketika solusi yang paling logis secara fungsi, penambahan kanopi, justru dianggap bermasalah dari sisi tampilan bangunan.

Desy secara terbuka menyatakan bahwa pemasangan kanopi di sisi kanan gedung, area yang paling sering terdampak tempias dari arah Jalan Pandai, dinilai mengganggu estetika dan kesimetrisan bangunan.

“Secara estetika, dipasang kanopi sebetulnya tidak bagus. Kalau kami menambah kanopi dari sisi kanan, bangunan tidak akan simetris,” katanya.

Sisi kanan gedung Pasar Pagi yang menghadap Jalan Pandai disebut sebagai titik paling rentan karena minim penghalang angin.

Berbeda dengan sisi kiri yang terlindungi deretan bangunan lain, area kanan masih terbuka sehingga hembusan angin membawa air hujan langsung masuk ke lorong lantai atas.

“Tempias itu signifikan dari sisi kanan Jalan Pandai, karena bangunan di sampingnya kosong. Kalau sisi kiri tidak, karena dari sana banyak bangunan,” jelas Desy.

Di sisi lain, opsi pemasangan kanopi di kedua sisi juga dinilai tidak memungkinkan.

Jika kanopi hanya dipasang di sebelah kiri, aliran air hujan justru akan jatuh ke bangunan lain dan memicu keberatan dari pemilik sekitar.

Akibatnya, pilihan yang tersisa kembali mentok pada dilema visual.

“Solusinya memang kanopi, tapi yang dipasang pasti sebelah kanan saja. Kalau kiri, pasti protes karena airnya turun ke mereka. Tapi secara estetika memang tidak bagus,” ungkapnya.

Desy menegaskan bahwa persoalan ini kini menjadi bahan evaluasi internal tim teknis PUPR.

Meski begitu, arah penyelesaian belum sepenuhnya berada di tangan teknis semata.

Keputusan akhir, termasuk apakah estetika bangunan bisa dikompromikan demi fungsi, akan dibawa ke tingkat kebijakan.

“Yang terbuka itu kan sisi Jalan Pandai. Kami akan sampaikan ke TAPD dan Pak Wali. Kalau dianggap secara estetika masih bagus, mungkin bisa saja kami masukkan,” katanya.

Selain kanopi, PUPR juga mempertimbangkan opsi lain seperti penutupan sebagian sisi gedung.

Namun pilihan itu membawa konsekuensi baru, yakni berkurangnya pencahayaan alami yang selama ini menjadi keunggulan desain Pasar Pagi Baru.

Kondisi ini lantas menempatkan pedagang pada posisi menunggu, sementara genangan bisa kembali terjadi setiap kali hujan datang dengan arah angin tertentu.

“Ada banyak opsi, apakah memilih kanopi atau menutup sisi tapi akan mengurangi cahaya. Semua harus dipertimbangkan,” tutup Desy. (lis)