BERI.ID – Di sebuah sudut pasar tradisional di kawasan Pasar Pagi, Samarinda, aroma khas ikan asin bercampur semilir angin basah dari Sungai Mahakam yang tak jauh dari sana. Di balik etalase kaca warung sembako sederhananya, Ibu Sumiyati (51) sedang termenung. Jemarinya yang mulai keriput sesekali mengetuk meja kayu, mencocokkan nota belanjaan dari agen distributor di pergudangan Jalan Ir. Sutami yang angkanya kian hari kian membubung.
Bagi Sumiyati, istilah “kurs valuta asing”, “inflasi global”, atau “perkembangan makroekonomi” adalah bahasa langit yang sulit ia pahami. Namun, ketika angka di layar televisi di warungnya menunjukkan nilai tukar rupiah yang terus melemah dan menembus angka psikologis baru terhadap dolar AS, Sumiyati tahu persis apa artinya bagi isi dompet: harga barang-barang pokok yang dipasok dari luar pulau akan kembali mencekik.
“Dulu modal Rp500 ribu sudah bisa penuhi rak pajangan warung. Sekarang, uang segitu cuma dapat separuhnya. Kalau harga dagangan saya naikkan, warga di sekitar bantaran sungai ini tidak mau beli. Kalau tidak dinaikkan, saya yang gulung tikar,” keluh Sumiyati dengan senyum getir yang dipaksakan.
Apa yang dialami Sumiyati adalah potret riil dari efek domino meroketnya mata uang Paman Sam hingga ke jantung Benua Etam. Di atas kertas, pergerakan angka-angka di bursa saham Jakarta mungkin tampak abstrak bagi masyarakat daerah. Namun di dunia nyata, ia menjelma menjadi beban hidup yang teramat konkret bagi jutaan kepala keluarga di Kalimantan Timur.
Tekanan ini paling terasa di atas meja makan masyarakat Samarinda. Tempe dan tahu, makanan sejuta umat yang menjadi tumpuan gizi harian, kini ukurannya kian hari kian menyusut. Para pengrajin tahu-tempe di kawasan Selili terpaksa melakukan siasat ekstrem tersebut demi menyiasati harga bahan baku kedelai impor yang harganya tak lagi ramah di kantong.
Tak jauh dari pasar, seorang pria bernama Joni (34) sedang menyandarkan motornya di bawah terik matahari, menatap lalu lalang tongkang batubara di sungai. Bagi Joni yang menggantungkan hidup sebagai pengemudi ojek online, melemahnya rupiah dirasakannya langsung saat harus mengganti suku cadang motornya yang rusak pekan lalu di bengkel lokal.
“Semua onderdil motor naik, Mas. Katanya karena barang impor dari luar. Sementara tarif ojek segini-gini saja, pesanan juga sepi karena warga mulai hemat belanja. Pendapatan harian habis di jalan hanya untuk beli bensin dan makan siang yang porsinya makin sedikit,” tutur bapak dua anak ini sembari menyeka keringat.
Pemerintah dan bank sentral di pusat mungkin terus merumuskan jurus jitu untuk mengintervensi pasar dan menstabilkan mata uang Garuda. Namun di akar rumput Kaltim, waktu berjalan lebih cepat daripada birokrasi kebijakan. Masyarakat kecil tidak punya waktu untuk menunggu kebijakan itu berdampak; mereka harus memutar otak setiap pagi agar dapur tetap mengepul.
Saat senja mulai turun dan lampu-lampu di Jembatan Mahakam mulai menyala, Ibu Sumiyati mulai merapikan barang dagangannya. Ia mengunci laci uangnya yang tak seberapa penuh dengan helaan napas panjang. Di tengah badai ekonomi global yang tak menentu, harapannya dan jutaan masyarakat kecil di Samarinda tetap sama dan sederhana: agar esok hari, rupiah kembali punya taji, membawa pulang daya beli yang sempat pergi. (Red)
