Target Internet Gratis di Seluruh Desa di Kaltim, Tahun 2025 Dikejar Angka 716 Desa 

Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim, Muhammad Faisal. (Foto: Lisa/ beri.id)

BERI.ID – Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kaltim, Muhammad Faisal, menyebut proyek internet desa dengan ambisi besar, 716 desa tersambung internet akhir tahun 2025 ini, bukan sekadar infrastruktur, tetapi fondasi untuk transformasi digital desa.

Menelan anggaran Rp12,5 miliar, sementara desa yang sudah tersambung internet gratis ini sebanyak 441 desa atau sebesar 52 persen, dimana provider yang tersedia diantaranya Telkom, Telkomsel, Icon +, dan Comtelindo.

Telkom telah menyelesaikan pemasangan di 130 desa, sementara Comtelindo di 84 desa.

Untuk Telkomsel, dari total target 131 desa, baru 71 desa yang terpasang dan sisanya masih dalam proses. Adapun Icon+ telah memasang jaringan di 11 desa, dengan 14 desa lainnya yang masih dalam tahap pengerjaan.

Program internet gratis desa ini menargetkan pemasangan di 841 desa, dengan rincian Berau 100 desa, Kutai Barat 190 desa, Kutai Kartanegara 193 desa, Kutai Timur 139 desa, Mahakam Ulu 50 desa, Paser 139 desa, dan Penajam Paser Utara 30 desa.

Namun, hingga akhir tahun 2025, realisasi yang direncanakan baru mencakup 716 desa.

“716 yang bisa dipenuhi tahun ini. Kita masih bicara anggaran murni, selanjutnya akan menyesuaikan anggaran,” bebernya, di Kantor Diskominfo Kaltim, Jumat (29/8/2025).

Lebih lanjut, Faisal mengingatkan bahwa persoalan tidak berhenti pada pemasangan perangkat.

“Yang jauh lebih penting adalah monitoring pemanfaatannya,” tegasnya.

Faisal menegaskan percepatan transformasi digital harus diiringi percepatan literasi digital.

Rencananya, setiap desa akan dibina melalui pelatihan yang melibatkan Telkomsel dan dukungan kabupaten/kota.

Selain itu, Pemprov Kaltim merancang Creative Hub Village, pusat kreatif di tingkat desa untuk digital marketing, penjualan produk lokal, hingga pengembangan desa wisata.

“Kami akan mulai di Maratua. Empat desa di sana sudah sepakat menunjuk satu rumah atau ruangan untuk Creative Hub. Internet kita pasang, perangkat multimedia kita bantu, dan masyarakat kita latih,” jelas Faisal.

Ia menyatakan, setelah target pemasangan rampung, Diskominfo akan fokus dalam hal literasi digital dan kreatif finance.

Di sisi lain, Account Manager Telkomsel Kaltim, Bonita Losparingi menjelaskan bahwa saat ini sudah ada 33 titik internet desa yang terpasang di 202 lokasi secara parsial.

Tahap awal menggunakan layanan IndiHome, kemudian dilanjutkan dengan Telkomsel Orbit.

Target penyelesaian pemasangan layanan Orbit diperkirakan selesai dalam dua minggu ke depan, atau paling lambat pertengahan September.

“Biaya langganan layanan bervariasi. Layanan IndiHome di kisaran Rp1,1 juta hingga Rp2,2 juta per bulan. Kalau layanan Orbit lebih terjangkau, sekitar Rp800 ribu hingga Rp1,5 juta per bulan,” jelasnya.

Perbedaan utama antara keduanya terletak pada teknologi yang digunakan, IndiHome menggunakan jaringan fiber optik Telkom, sedangkan Orbit memanfaatkan jaringan GSM Telkomsel, sehingga dapat digunakan selama sinyal Telkomsel tersedia.

Dalam satu desa, setiap titik layanan dapat menghubungkan hingga 64 perangkat.

IndiHome menyediakan kecepatan hingga 200 Mbps secara keseluruhan, sedangkan Orbit memberikan kecepatan hingga 30 Mbps per pengguna, sehingga ketersediaan akses internet tetap terjaga meskipun perangkat yang terhubung cukup banyak.

Bonita juga menegaskan bahwa proyek internet desa ini bersifat strategis dan merupakan pilot project berskala nasional.

“Program ini belum ada di pemerintah provinsi lain. Banyak daerah lain yang kini menjadikan Kaltim sebagai acuan,” ujarnya.

Menurut Bonita, kontribusi sektor pemerintahan melalui proyek ini signifikan bagi pendapatan Telkomsel di Kaltim, bahkan mencapai sekitar 50 persen dari total pendapatan segmen pemerintah tahun ini.

Terkait kualitas layanan, Bonita memastikan bahwa Telkomsel memiliki komitmen service level agreement (SLA) yang ketat.

Jika terjadi gangguan jaringan akibat pemadaman listrik, putusnya jaringan atau kerusakan akibat proyek infrastruktur, Telkomsel wajib melakukan perbaikan secepat mungkin, biasanya dalam hitungan menit dan tidak sampai sehari.

Sistem pemantauan jaringan dilengkapi alarm yang terhubung langsung ke manajemen pusat, sehingga setiap gangguan sinyal segera terdeteksi dan diatasi.

Bonita juga menambahkan, kontrak kerja sama Telkomsel dengan Pemprov Kaltim untuk program ini berlaku selama lima tahun, sejalan dengan masa jabatan Gubernur Kaltim saat ini.

“Selama ada sinyal Telkomsel, layanan Orbit akan tetap berjalan. Bahkan di daerah dengan kondisi cuaca ekstrem atau terpencil, jaringan kami masih bisa dipantau dan segera diperbaiki jika ada kendala,” tandasnya. (lis)

Exit mobile version