BERI.ID – Selama Ramadan, trotoar di sejumlah ruas jalan utama Samarinda berubah fungsi.
Dari ruang publik bagi pejalan kaki, menjadi ruang ekonomi bagi pedagang kaki lima (PKL) yang memanfaatkan momentum berbuka puasa.
Pemerintah kota memberi toleransi, aktivitas jualan dibiarkan, bahkan ketika lapak tetap berdiri hingga malam hari.
Namun, kelonggaran itu saat ini resmi berakhir.
Kepala Satpol PP Samarinda, Anis Siswantini, menegaskan bahwa seluruh lapak yang berdiri di atas trotoar harus segera dibongkar setelah Lebaran.
“Itu hanya sementara, setelah Lebaran harus dibongkar,” tegasnya, Rabu (25/3/2026).
Dari Sumber Penghasilan, Menjadi Pelanggaran
Bagi sebagian pedagang, trotoar selama Ramadan bukan sekadar tempat berdagang sementara, tetapi sumber penghasilan utama yang menopang kebutuhan harian.
Lonjakan pembeli menjelang berbuka menjadi momen penting yang tidak bisa digantikan di tempat lain.
Saat ini, ruang yang sebelumnya dibuka justru harus ditinggalkan.
“Lapak yang kemarin tidak dibongkar malam hari masih kami toleransi. Tapi setelah Lebaran, harus dibongkar sendiri,” ujar Anis.
Pilihan Sulit di Lapangan
Satpol PP mendorong pedagang untuk membongkar lapak secara mandiri.
Pendekatan persuasif dikedepankan, dengan harapan tidak perlu ada tindakan paksa di lapangan.
“Jangan sampai Satpol PP yang membongkar. Lebih baik pedagangnya sendiri yang sadar,” katanya.
Ia menegaskan, apabila lapak masih berdiri, penertiban akan dilakukan.
“Kalau sudah diimbau tapi tidak ditertibkan, tentu akan kami lakukan penindakan. Tidak bisa dibiarkan terlalu lama,” tegasnya.
Trotoar, Antara Fungsi dan Realitas Ekonomi
Pemerintah menegaskan bahwa trotoar harus dikembalikan pada fungsi utamanya.
Infrastruktur yang telah dibangun dengan anggaran besar tidak boleh disalahgunakan.
Namun realitas di lapangan tidak sesederhana fungsi semata.
Trotoar yang sama, dalam satu bulan terakhir, telah menjadi ruang hidup bagi ekonomi kecil.
“Trotoar itu untuk pejalan kaki. Kita ingin Samarinda tertib dan nyaman,” tutup Anis. (lis)
