Joko Susilo : Wakil Rakyat Harus Mampu Menjadi Jembatan Aspirasi

Joko Susilo bersama keluarga (Dok.istimewa)

BALIKPAPAN – Siapa yang tidak kenal dengan sosok yang satu ini. Sederhana, cerdas dan tegas dalam bersikap. Pria yang dilahirkan 53 tahun silam ini kesehariannya adalah sebagai penjual kembang di sekitar Kelurahan Telaga Sari Kecamatan Balikpapan Kota.

Berkat kepiawaiannya bergaul dan pola pikir yang cemerlang, maka pada Pileg 2019 melalui Partai Berkarya ikut berkompetisi melalui Dapil (Daerah Pemilihan) Balikpapan Kota dengan nomor urut 4.

Namun Allah berkendak lain, akhirnya pada pileg tersebut untuk duduk sebagai wakil rakyat perolehan suara tidak mencukupi. “Kegagalan pada pileg 2019 adalah merupakan sukses yang tertunda. Dimana pada umumnya mereka yang berkompetisi hanya mengandalkan finansial, bukan kualitas, “tegas Joko Susilo saat ditemui media ini Rabu (17.02.2021).

Baca Juga :  3.500 Prajurit Korem 091/ASN di Siagakan Jelang Pelantikan Presiden

Menurut Joko Kembang-Sapaan akrabnya. Sebagai wakil rakyat yang merupakan mandataris masyarakat dapat menjadi jembatan aspirasi masyarakat terhadap pemerintah. Artinya apapun aspirasi ataupun keluhan masyarakat harus ditampung dan selanjutnya di implementasikan dalam bentuk karya nyata.

“Wakil Rakyat adalah mandataris rakyat, sudah seharusnya dapat menjadi jembatan yang kuat masyarakat kepada pemerintah. Bukan malah acuh tak acuh bilamana ada aspirasi masyarakat yang disampaikan, “tegas Joko.

Bukan itu saja lanjut Joko yang dikenal sangat vocal ini. Wakil rakyat juga harus bisa melakukan perubahan yang lebih baik. Khususnya dalam bidang pelayanan, pendidikan, agama, sosial dan sektor perekonomian. Apa lagi disaat pandemi Covid 19 ini.

Baca Juga :  Kejati Kaltim Diminta Menuntaskan Polemik Bantuan Dana Hibah Tahun 2012 di Kukar

Ditanya apa salah satu penyebab gagal dalam pileg 2019. Joko dengan lantang menjawab. Jujur, finansial yang utama. Ternyata masyarakat lebih memilih recehan rupiah, dari pada kualitas dan kuantitas individu caleg. Kondisi ini akan berdampak buruk bagi dunia politik. Ini tugas para politikus untuk melakukan pendidikan politik kepada masyarakat. Jika tidak, yang terjadi adalah keterpurukan bangsa secara nasional.

“Jangan dimanjakan masyarakat dengan finansial atau uang. Taburilah masyarakat dengan ilmu pengetahuan. Sehingga masyarakat bisa keluar dari krisis keterpurukan yang saat ini sedang melanda bangsa, “ungkap Joko.(ST)

What do you think?

Comments

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

Amankan Wilayah Patroli Brimob Polda Kaltim Rutin Sasar Pertokoan

Beda Pandangan, Antara Saksi dan Tim Penyidik Terkait Asal Muasal Titik Api Pada Musibah Kebakaran Pasar Citra Mas Loktuan