Belajar dari Rakyat Padarincang: Tentang Persatuan, Solidaritas dan Keteguhan Perjuangan

Oleh : Andi Muhammad Akbar.

Wakabid Agitasi dan Propaganda DPC GMNI kota Samarinda.

 

Beri.Id – Upaya perjuangan rakyat untuk mempertahankan sumber kehidupan serta kelestarian lingkungannya mendapatkan tantangan berat. Dalam beberapa tahun terakhir pergerakan rakyat digempur habis-habisan oleh investasi di daerah, Di Kulon Progo, Jogjakarta.

Masyarakat yang mayoritas mengandalkan lahannya untuk bertani serta berkebun, dipaksa untuk meninggalkan tempat tinggal yang berdampak pula pada terasingnya mereka pada aktifitas produksi yang selama ini diandalkan guna mencukupi kebutuhan hidup, semua itu akibat dari pembangunan bandara New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA) yang telah menuai protes dari berbagai pihak.

Hal yang sama juga dirasakan oleh masyarakat Kendeng, Jawa Tengah. Kali ini Pabrik Semen menjadi sumber masalahnya. Meski mendapatkan penolakan dari berbagai fihak hingga jatuh korban, pada akhirnya masyarakat tetap harus rela melihat lingkungannya di obrak-abrik akibat proyek pembangunan pabrik semen yang tetap dilanjutkan.

Pemandangan yang tak jauh berbeda juga bisa kita jumpai hampir terjadi di seluruh Kabupaten/Kota di Kalimantan Timur, dimana industri pertambangan tampil begitu menyeramkan. Desa Mulawarman, Kecamatan Tenggarong Seberang, Kabupaten Kutai Kartanegara misalnya, dalam beberapa tahun kedepan terancam hilang dari peta akibat eksploitasi tambang yang ugal-ugalan.

Banyak perlawanan yang lahir dari situasi seperti itu, namun harus diakui bahwa  perlawanan gerakan rakyat seperti contoh diatas, belum mampu menahan laju korporasi yang kian menggerogoti sumber-sumber penghidupan petani, dan masyarakat desa pada umumnya.

Eksploitasi ugal-ugalan yang kemudian menghasilkan gelombang perlawanan tidak hanya terjadi didaerah-daerah seperti yang ditulis diatas, melainkan hampir bisa kita temui diseluruh wilayah di republik ini.

 

Padarincang, Semangat perlawanan yang terus membara

Dari berbagai perlawanan yang dilahirkan oleh gerakan-gerakan rakyat, perlawanan masyarakat di Kecamatan Pasarincang, Kabupaten Serang, Provinsi Banten patut menjadi inspirasi bersama. Gerakan rakyat yang dibangun mampu terus bertahan dan memberikan perlawanan sampai saat ini, hal tersebut mampu dicapai berkat solidaritas yang lahir ditengah-tengah masyarakat.

Kecamatan Padarincang terletak di Kabupaten Serang, Provinsi Banten, memiliki sumber daya alam melimpah, sektor perkebunan, sektor pertanian dan juga parawisata. Kecamatan Padarincang terletak di kaki-kaki gunung sehingga juga memiliki sumber mata air melimpah. Selain itu Padarincang juga memiliki potensi panas bumi yang melimpah.

Baca Juga :  Pengamat : Tim Isran Harus Terjemahkan Konsep Kedaulatan Secara Benar

Wilayah Padarincang memiliki sejarah pelawanan luar biasa. Wilayah yang kaya akan sumber mata air ini menjadi incaran bagi korporasi-korporasi yang bergerak di industry air. Mengutip dari selamatkanbumi.com Aqua-Danone, Perusahaan Multinasional yang berkantor pusat di Prancis, lewat PT Tirta Investama sejak 2007, berawal dari Surat Izin yang dikelurkan oleh Bupati saat itu, berada diposisi terdepan untuk mengeksploitasi sumber mata air disana.

Penolakan dari tahun ke tahun terus dikumandangkan oleh masyarakat, atas dasar menolak ancaman hancurnya sumber mata air, lahirnya bencana kekeringan dan hancurnya lahan pertanian warga. Aksi massa hingga audiensi pun sudah dilalui, selain itu juga menggalang dukungan solidaritas atas perjuangan yang mereka tengah laksanakan. Hingga akhirnya, berkat kegigihan mereka dalam melaksanakan perlawanan, Danone berhasil mereka usir.

Perlawanan yang tak kunjung usai, masyarakat Padarincang kembali berjuang mempertahankan hak mereka.  Lagi-lagi proyek multinasional kembali ingin dibangun di Padarincang, kali ini megaproyek yang akan dilaksanakan adalah pembangunan pembangkit listrik tenaga panas bumi atau lebih dikenal geothermal, rencana tersebut dimulai sejak tahun 2017 lalu. Proyek ini tepatnya berlokasi di Gunung Praksak, Kampung Wangun, Desa Batukuwung. Terhitung hingga kini, perjuangan masyarakat Padarincang sudah lebih dari 3 tahun.

Gerakan yang dibangun solid dan mendapatkan dukungan dari banyak fihak, hingga akhirnya pembangunan geothermal oleh PT Sintesa Banten Geothermal dihentikan untuk sementara.

 

Apa itu Energi Panas Bumi dan Kenapa Padarincang menolak pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi atau  Geothermal?

Listrik tenaga panas bumi adalah listrik yang dihasilkan dari panas bumi.. Sumber tenaga panas bumi dapat ditemukan pada air dan bebatuan panas  dideket permukaan bumi sampai beberapa kilo meter dibawah permukaan,bahkan jauh sampai kedalam lagi sampai pada sumber panas yang sangat panas. Untuk mendapat panas bumi tersebut maka harus dilakukan pengeboran sumur seperti yang dilakukan pada pengeboran sumur minyak bumi.

Panas bumi mengalir secara terus menerus dari dalam bumi menuju permukaan yang bentuknya berupa gunung berapi, mata air panas dan geyser. Cerita penolakan pembangunan Geothermal di Kecamatan Padarincang, dari keterangan langsung masyarakat Padarincang, menjelaskan bahwa pembangunan geothermal di Gunung Prakasak telah merampas sumber hidup mereka. Warga yang tinggal disekitaran Kampung Wangun yang menggantungkan sektor ekonominya pada perkebunan, harus menyingkir karena pembangunan akses jalan dan lokasi geothermal.

Baca Juga :  Soal Konflik Masyarakat Adat Basipae, Granat Kaltim Sampaikan Surat Terbuka

Pembangunan geothermal yang disertai pembukaan akses jalan di hutan bukan hanya merampas hak mata pencarian penduduk setempat tetapi juga tentu menimbulkan terjadinya pembabatan hutan di wilayah sekitarnya. Mirisnya perkebunan yag selama ini di kelola masayarakat hanya diberikan kompensasi sebesar RP. 800.000 hal yang tidak setimpal dengan apa yang dimiliki waga di tempat tersebut. Selain sektor perkebunan di sekitaran Gunung Prakasak, Cikinong dibagian bawah gunung juga akan terkena dampak pembangunan tersebut.

Daerah Cikinong mayoritas warganya merupakan petani, penolakan dari warga muncul setelah mengamati bahwa pembangunan geothermal berakibat pada penggundulan hutan hingga tak ada lagi resapan air untuk mengaliri air sawah pertanian, apalagi geothermal membutuhkan banyak air dalam prosesnya.

Masyarakat Padarincang berpandangan bahwa penerimaan terhadap pembangunan geothermal sama saja turut serta, meng-iyakan pengerusakan hutan, penghancuran keanekaragaman hayati serta yang paling terasa adalah menghilangkan mata pencarian peduduk setempat yang mayoritas bertani.

Penolakan pembangunan geothermal tersebut juga akibat resiko yang terlalu besar dan dampak negatif sudah mereka rasakan sendiri bahkan sebelum pembangunan dilaksanakan seperti banjir, deforestasi hutan, hingga penghilangan mata pencarian penduduk.

 

Syarikat Perjuangan Rakyat Padarincang; Syiar Perjuangan yang wajib dikabarkan

Upaya perlawanan  warga Padarincang terhadap penolakan pembangunan geothermal telah berjalan lebih dari 3 tahun. Penghentian sementara proyek tersebut tentu hal luar biasa karena berhadapan dengan perusahaan besar dan pemerintah sendiri.

PT Sintesa Banten Geothermal secara diam-diam membuat akses jalan ke lokasi pembangunan geothermal. Pada saat itu warga yang terkena imbas pengelolaan mereka di dalam hutan tidak dapat berbuat apa-apa. Dengan perlawanan yang belum terkonsolidasikan warga harus melihat hutan dan sumber penghidupannya rusak. Kejadian tersebut melatarbelakangi munculnya simpul-simpul perlawanan dari warga hingga simpul-simpul tersebut mulai dikumpulkan.

Dalam gerakan awal penolakan hanya sedikit warga yang terlibat, hal-hal yang dilakukan adalah dengan membentangkan spanduk-spanduk penolakan, penyadaran terhadap masyarakat dan memboikot alat berat masuk ke lokasi. Upaya ini tidak sia-sia, akhirnya simpul-simpul baru dibuat, wilayah Padarincang yang memiliki banyak pesantren membuat banyak kiai, uztad dan santri bergabung dalam perjuangan. Mahasiswa dari Serang dan wilayah Banten juga mulai berdatangan.

Baca Juga :  Solidaritas Jurnalis Bontang, Belum Juga Dapatkan Kepastian Tuntutan, Kapolda Kaltim : Media Besar Peranannya

Hal pertama yang memberi persatuan antar elemen adalah penyerobotan dan perampasan lahan perkebunan merupakan tindakan zholim terhadap warga. Hal ini menjadi konsolidasi yang besar antara mahasiswa, Kyai, Ustadz, Santri serta segenap masyarakat Padarincang. Bersatunya elemen-elemen ini menyepakati pembangunan aliansi bersama untuk penolakan pembangunan geothermal yaitu Syarekat Perjuangan Rakyat Padarincang (SAPAR).

Syarekat Perjuangan Rakyat Padarincang inilah yang menjadi kekuatan masyarakat melakukan berbagai aksi protes ke instansi, aksi boikot alat berat, istigosah dan hal-hal lain dalam rangka upaya edukasi terhadap masyarakat. Syarikat Perjuangan Rakyat Padarincang menjadi kekuatan baru rakyat untuk mempercayai kekuatannya sendiri, gerakan ini berhasil menghentikan sementara pembangunan geothermal tersebut.

Syarikat Perjuangan Rakyat Padarincang masih terus berlanjut dan memperkuat konsolidasinya agar mendapatkan dukungan seluas-luasnya untuk mengusir secara utuh perusahaan perusak lingkungan tersebut. Saat ini masyarakat Padarincang membutuhkan solidaritas seluas-luasnya untuk mempertahankan bumi Padarincang dari kerusakan. Masyarakat Padarincang tidak ingin keramah-tamahan penduduk desa dan panorama alam Padarincang hilang akibat pembangunan geothermal.

Berdasarkan pengalaman yang kami dapatkan saat berada ditengah-tengah perjuangan rakyat Padarincang, belajar tentang betapa pentingnya tenunan solidaritas dalam setiap gerakan-gerakan rakyat, maka dimanapun kita berada, ikut serta menyerukan perlawanan untuk penghentian pembangunan geothermal di Padarincang, merupakan hal wajib dalam rangka menguatkan simpul-simpul perjuangan rakyat, memunculkan satu demi satu ikatan solidaritas, berbangsa satu, berbahasa satu serta bertanah air satu, Indonesia.

Semoga Kalimantan Timur semakin maju dalam kesadaran yang sama, turut berjuang bersama melawan eksploitasi sumber daya alam yang semakin beringas.  Belajar dari perjuangan masyarakat Padarincang serta semangat perjuangan di berbagai daerah,  gerakan-gerakan rakyat tumbuh dengan kesadaran untuk berani melawan mempertahankan tanah dan airnya.

 

 

Opini oleh : Andi Muhammad Akbar.

Editor (Asbar)

Report

What do you think?

Comments

Tinggalkan Balasan

Loading…

0

RUU Ekraf Mendekati Masa Final, Edi Kurniawan: Kita Perlu Badan Hukum Terkait Ekonomi Kreatif

Perusda di tuntut Berbenah, Tidak Berharap Suntikan Dana Daerah