Dishub Mau Hadirkan Transportasi Bus Khusus di Samarinda, Butuh Dana Sekitar Rp 60 Miliar 

Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu. (Foto: Ellysa)

BERI.ID – Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Samarinda, Hotmarulitua Manalu, memastikan tidak akan ada lagi lahan parkir kendaraan di sekitar Dermaga Mahakam Ilir dan Teras Pasar Pagi, sebagai strategi besar menata kawasan pedestrian sekaligus menguatkan layanan angkutan umum massal berbasis jalur khusus.

Kebijakan ini diambil setelah studi kelayakan transportasi menunjukkan seluruh titik keberangkatan dan kedatangan angkutan massal terpusat di Pasar Pagi.

“Kami memutuskan area sekitar dermaga bersih dari parkir. Semua diarahkan ke gedung Pasar Pagi agar kawasan ini murni menjadi zona pejalan kaki dan angkutan umum,” ujarnya, Rabu (20/8/2025) malam.

Untuk itu, Dishub agendakan untuk hadirnya transportasi via bus di kawasan tersebut.

Dua Halte Utama

Nantinya disiapkan dua halte utama di sekitar dermaga.

Area bekas parkir mobil di sisi kiri jalan akan diubah menjadi halte untuk jalur 1A–1B, sementara sisi kanan disiapkan untuk jalur 2A–2B.

Jalur ini dirancang berbentuk elips untuk menghubungkan pusat kota ke kawasan Lempake dan Samarinda Seberang, dengan tujuh armada bus aktif plus satu cadangan pada setiap jalur.

“Rute 1A lewat Jalan Antasari, 1B lewat Gajah Mada, Jembatan Mahakam I, dan Mulawarman sebelum berputar ke Lempake. Track 3 connect ke Bandara APT Pranoto. Sementara Rute 2A–2B menghubungkan kota dengan Samarinda Seberang lewat Jembatan Mahkota atau Slamet Riyadi,” jelas Hotmarulitua.

Untuk memastikan pengguna kendaraan pribadi tidak memarkirkan mobil sembarangan, median jalan di sekitar dermaga akan dipasang pagar pembatas.

Zebra cross di depan gedung Pasar Pagi juga akan diperlebar menjadi lima meter untuk memudahkan pejalan kaki menyeberang ke dermaga.

“Ini bentuk rekayasa sosial. Kita harus paksa warga terbiasa berjalan kaki dan menggunakan transportasi publik. Tidak boleh lagi ada parkir liar yang merusak tata ruang,” tegasnya.

Gedung Parkir Pasar Pagi jadi Simpul Utama

Parkir diarahkan ke gedung Pasar Pagi yang rencananya akan beroperasi 24 jam dengan sistem digital.

Dishub membuka peluang pengelolaan melalui pihak ketiga, baik lewat mekanisme lelang maupun beauty contest untuk memilih mitra operator terbaik.

Gedung parkir itu menurutnya harus dimanfaatkan maksimal. Tidak hanya untuk aktivitas pasar di pagi–sore hari, tapi juga malam hari untuk mendukung pengunjung Teras Samarinda.

“Ini sekaligus menambah PAD atau Pendapatan Asli Daerah, dari retribusi parkir,” kata Hotmarulitua.

Skema Pembiayaan: Buy the Service

Armada bus akan dioperasikan melalui skema buy the service, pemerintah membayar operator per kilometer layanan.

Model ini dipilih agar bus berplat kuning tetap bisa mengenakan tarif terjangkau bagi warga, bahkan berpotensi gratis jika skema anggaran memungkinkan.

“Kalau kita beli bus sendiri, armadanya jadi plat merah dan tidak boleh menarik tarif. Lebih baik pemerintah membeli layanan, bukan kendaraannya. Operator yang jalankan, pemerintah yang bayar per kilometer,” bebernya.

Estimasi kebutuhan anggaran mencapai Rp40–60 miliar, termasuk pembangunan halte, jalur khusus, dan integrasi sistem.

Jika menggunakan bus listrik, biaya akan lebih tinggi, namun Dishub memanfaatkan sistem yang sudah dimiliki Kementerian Perhubungan agar integrasi layanan bisa dipercepat.

Teknologi dan Layanan Bus

Seluruh bus akan dilengkapi CCTV untuk memantau sopir dan penumpang, serta sistem tap in–tap out, yang terhubung dengan aplikasi Teman Bus, milik Kementerian Perhubungan.

Warga bisa memantau kedatangan bus secara real-time dengan jarak kedatangan rata-rata 15 menit antararmada.

“Operasionalnya kita targetkan mulai pukul 06.00 sampai 21.00, dan bisa diperpanjang sampai pukul 22.00 jika permintaan tinggi,” ungkapnya.

Ditegaskan Hotmarulitua Manalu, kebijakan ini menegaskan arah pembangunan transportasi kota, yaitu mengutamakan mobilitas, bukan parkir.

“Teras Samarinda sejak awal dirancang untuk mendukung lifestyle baru, berjalan kaki, naik angkutan umum, dan meninggalkan ketergantungan pada kendaraan pribadi,” tegasnya.

Dishub memastikan seluruh jalur pejalan kaki akan diperbaiki, penerangan jalan umum (PJU) dipasang, dan halte dibuat nyaman.

“Kalau jalur pedestrian tertata dan bus datang tepat waktu, warga otomatis beralih. Ini yang ingin kita wujudkan,” tutupnya. (lis)

Exit mobile version