Lahan Clean and Clear, Proyek Kolam Retensi Sempaja Lestari Indah Mulai Jalan Feb–Mar 2026

Ketua Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) Samarinda, Syaparudin. (Foto: Lisa/beri.id)

BERI.ID – Pembangunan outlet kolam retensi di kawasan Perumahan Sempaja Lestari Indah (SLI), Kelurahan Sempaja Timur, Kecamatan Samarinda Utara, ditargetkan mulai bergerak Februari–Maret 2026, setelah TWAP Samarinda memastikan status lahan clean and clear dan pemilik lahan menyatakan setuju tanpa keberatan.

Kepastian ini mematahkan isu sengketa lahan yang selama ini dinilai menjadi penghambat utama proyek pengendalian banjir tersebut.

Ketua Tim Wali Kota untuk Akselerasi Pembangunan (TWAP) Samarinda, Syaparudin, menegaskan bahwa hasil pengecekan lapangan dan rapat resmi dengan Badan Pengelola Keuangan dan Aset Daerah (BPKAD) menunjukkan tidak ada tumpang tindih kepemilikan di titik yang akan dijadikan jalur outlet.

“Status lahannya tidak bermasalah. Tidak ada tumpang tindih kepemilikan,” tegas Syaparudin, Kamis (29/1/2026).

Kata Syaparudin, isu sertifikat yang sempat memunculkan keraguan ternyata berasal dari kesalahan titik lokasi.

Sertifikat yang dipersoalkan berada di lokasi lain, bukan di jalur outlet.

“Tanah yang diduga bersertifikat itu lokasinya bukan di titik outlet. Jadi tidak ada benturan dengan SPPT lahan yang akan dipakai,” jelasnya.

Dengan demikian, hambatan utama proyek kini bukan lagi aspek hukum lahan, melainkan kecepatan penyelesaian tahapan administratif.

Oleh karenanya, tahapan yang kini masih berjalan adalah:

1. Penilaian harga lahan oleh Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP)
2. Penyelesaian ganti rugi sesuai aturan

Setelah dua tahapan ini rampung, Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) bidang Sumber Daya Alam (SDA) diminta langsung mengeksekusi pembangunan outlet.

“Begitu penilaian KJPP dan ganti rugi selesai, SDA bisa langsung bergerak membangun,” ujarnya.

Syaparudin juga menegaskan bahwa pemilik lahan telah menyatakan persetujuan penuh atas rencana penggunaan lahan mereka.

Persetujuan warga ini memperkuat posisi Pemkot bahwa proyek tidak memiliki hambatan sosial.

“Pemilik lahan setuju, siap. Tidak ada keberatan dari warga,” katanya.

Sebagai informasi tambahan, kawasan Kolam Retensi tersebut ditata dengan lintasan jogging, sentra UMKM, serta ruang terbuka hijau, sehingga bisa menjadi tempat berinteraksi, beraktivitas, dan berekreasi bagi masyarakat sekitar.

Secara fungsi, kolam retensi ini juga menjadi benteng pertama pengendali banjir bagi kawasan hulu, termasuk Padat Karya dan sekitarnya.

Air limpasan tidak lagi langsung menghantam permukiman, tetapi ditahan dan diatur debitnya, sebelum dilepas ke jalur pembuangan.

Skema ini dirancang untuk memotong lonjakan air yang selama ini memicu genangan dan banjir di kawasan padat penduduk.

Pemkot telah menyiapkan tahap lanjutan pengembangan mulai tahun ini, dengan suntikan anggaran sekitar Rp20 miliar, dengan anggaran tahun sebelumnya lebih dari Rp9,8 miliar.

Dengan begitu, kolam retensi ini bakal menghadirkan fasilitas rekreasi, ruang interaksi warga, dan sarana pendukung agar kawasan ini benar-benar tumbuh menjadi ikon baru Samarinda Utara. (lis)

Exit mobile version