BERI.ID – Di tengah gempuran minuman kekinian dan perubahan selera pasar, sebuah lapak es serut klasik masih bertahan di kawasan Mesra Indah Samarinda. Es Serut Slush Puppie, yang telah hadir sejak sebelum 2007, menjadi saksi hidup perubahan lanskap konsumsi masyarakat kota.
Puji Raharjo, penjual Es Serut di Mesra Indah itu, mengatakan usaha ini sudah eksis jauh sebelum ia ikut berjualan.
Ia sendiri mulai bergabung sejak 2007, sementara menurut informasi yang ia terima, lapak tersebut sudah beroperasi lebih lama lagi.
“Kalau saya ikutnya dari 2007. Tapi sebelum itu sudah ada memang,” kata Puji saat ditemui di lapaknya, Sabtu (10/1/2026).
Pada masa kejayaannya, khususnya sekitar 2008 hingga awal 2010-an, minuman es serut menjadi primadona. Lapak es yang kini terkesan sederhana itu pernah menikmati ramainya pengunjung, seiring belum maraknya produk minuman modern seperti sekarang.
“Dulu rame sekali. Tapi sekarang memang sudah berkurang karena tren. Minuman kita kan minuman klasik,” ujarnya.
Puji tak menampik bahwa penurunan minat pasar berdampak langsung pada pendapatan. Jika dahulu omzet bulanan bisa menyentuh Rp16 juta hingga Rp20 juta, kini angka tersebut turun signifikan.
“Sekarang kalau bisa dapat Rp12 juta sampai Rp13 juta per bulan itu sudah bagus,” ungkapnya.
Penurunan itu, menurut Puji, mulai terasa sejak sekitar 2016, saat kondisi ekonomi melambat dan disusul kemunculan minuman kekinian yang merebut pangsa pasar. Pandemi Covid-19 juga menjadi pukulan tersendiri, meski di beberapa momen justru memberi lonjakan sementara.
Meski demikian, Es Serut Slush tetap bertahan. Puji menyebut keputusan itu bukan semata pertimbangan bisnis, melainkan juga soal komitmen dan keyakinan pribadi.
“Kita bertahan saja. Bos juga bilang sambil ibadah. Jadi ya dijalani,” katanya.
Produk yang dijual tetap mempertahankan ciri klasik, yakni es serut beku dengan sirup, menggunakan gula asli tanpa pemanis buatan. Menurut Puji, penggunaan gula asli menjadi alasan minuman ini masih memiliki pelanggan setia.
“Kalau pakai pemanis itu enggak tahan, orang bisa batuk. Kita pakai gula asli,” jelasnya.
Dalam kondisi normal, penjualan harian berkisar 30 gelas per hari, tergantung cuaca. Saat hujan, penjualan bisa turun drastis. Namun pada momen tertentu seperti libur sekolah atau meningkatnya aktivitas pengunjung, angka tersebut bisa bertambah.
Harga es serut pun mengalami kenaikan bertahap seiring waktu. Dari Rp2.000–Rp3.000 di awal tahun 2000-an, kini bertahan di harga Rp10.000 per gelas. Puji mengaku enggan menaikkan harga lebih tinggi karena mempertimbangkan pelanggan lama.
“Kalau dinaikkan, saya yang di lapangan yang repot. Kasihan pelanggan,” ujarnya.
Lapak Es Serut Slush sendiri telah berpindah-pindah lokasi sebelum akhirnya menetap di Mesra Indah sejak 2009. Cabang lain yang sempat ada di pusat perbelanjaan seperti Lembuswana akhirnya tutup karena tidak sanggup menutup biaya sewa.
Menariknya, kehadiran aktivitas Pasar Pagi di sekitar kawasan justru memberi dampak positif tersendiri.
Menurut Puji, jumlah pengunjung meningkat dan membuka peluang transaksi, meski tidak serta-merta mengubah karakter konsumennya.
“Pengaruh pasti ada. Pengunjung lebih banyak, harapan juga ada,” katanya.
Bagi Puji, Es Serut Slush bukan sekadar usaha, melainkan bagian dari perjalanan hidup. Di tengah perubahan zaman, ia memilih bertahan dengan pasar yang kecil namun setia.
“Kita ini produk klasik. Peminatnya memang ada, meski tidak besar,” tutupnya. (lis)
