Eskalator Pasar Pagi Mati Karena Angkut Barang, Disdag dan PUPR: Digunakan Tidak Semestinya

Potret eskalator bangunan Pasar Pagi baru. (Foto: Lisa/beri.id)

BERI.ID – Masalah eskalator mati di Pasar Pagi Samarinda ternyata bukan karena kerusakan teknis murni, melainkan akibat penyalahgunaan fungsi fasilitas.

Barang dagangan diangkut lewat eskalator yang sejatinya hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki.

Eskalator yang mati itu juga memicu kekacauan arus pedagang, video penumpukan pedagang di jalur lift barang beredar luas di media sosial, memperlihatkan antrean panjang, desakan, dan aktivitas bongkar muat yang kacau akibat eskalator tak berfungsi.

“Eskalator lantai tujuh mati, mana bisa orang datang nih kalau mati terus begini aduh, nasib nasib!,” keluh pedagang dalam video viral berdurasi 24 detik tersebut, Minggu (25/1/2026).

Saat ditemui tim redaksi, Kepala Dinas Perdagangan (Disdag) Samarinda, Nurrahmani, mengungkapkan bahwa insiden itu terjadi di tengah situasi pemindahan pedagang yang serba terburu-buru.

Ia memang tidak menyalahkan pedagang, hanya saja faktanya eskalator dipakai untuk mengangkut barang oleh pedagang.

“Padahal itu bukan peruntukannya. Untuk barang sudah disediakan lift khusus,” tegasnya, Senin (26/1/26).

Lanjutnya, eskalator memang sempat mati dan memicu keluhan luas di kalangan pedagang.

Namun perbaikan telah dilakukan dan seluruh unit kini kembali berfungsi.

“Sudah diperbaiki semua. Tapi kami minta ke depan fasilitas ini dijaga bersama. Gunakan sesuai fungsi,” ujarnya.

Yama juga menepis berbagai tudingan yang sempat berkembang, mulai dari dugaan kualitas pembangunan pasar hingga isu perawatan fasilitas yang disebut buruk.

Faktanya, kerusakan justru dipicu oleh pola penggunaan yang keliru.

Penjelasan teknis juga disampaikan Kepala Dinas PUPR Samarinda, Desy Damayanti.

Ia menyebut sistem eskalator memang dirancang dengan mekanisme pengaman otomatis.

“Saat dicek, ada barang yang tersangkut. Secara sistem, alat akan langsung mengunci dan mati otomatis demi keselamatan. Itu fitur proteksi, bukan kerusakan,” jelas Desy.

Ia menegaskan, kontraktor tetap bertanggung jawab terhadap peralatan tersebut dan sudah dilakukan evaluasi menyeluruh.

Pemerintah membangun lift barang, eskalator, hingga sistem keselamatan, namun semua itu akan percuma jika tidak digunakan sesuai fungsi.

Untuk itu, pemerintah kini mendorong semua pihak, pedagang, pengelola, hingga pengunjung, untuk ikut menjaga fasilitas bersama.

“Fasilitas pasar ini milik publik. Kalau rusak karena dipakai tidak semestinya, yang rugi bukan hanya pemerintah, tapi pedagang sendiri,” tutup Yama. (lis)

Exit mobile version