SAMARINDA – Kecepatan pemerintah dalam menangani potensi gangguan kesehatan masyarakat tidak hanya bergantung pada kesiapan fasilitas medis, tetapi juga pada kelancaran informasi yang diterima dari lingkungan permukiman. Komunikasi antara warga dan pemerintah menjadi salah satu aspek yang perlu diperkuat agar persoalan kesehatan dapat dikenali sebelum berkembang lebih luas.
Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Harminsyah, menilai lingkungan tempat tinggal merupakan sumber informasi penting untuk mengetahui perubahan kondisi kesehatan masyarakat. Aktivitas sehari-hari membuat warga lebih dekat dengan berbagai persoalan yang mungkin belum terpantau oleh instansi pemerintah.
“Masyarakat biasanya menjadi pihak pertama yang mengetahui kondisi tidak biasa, baik lingkungan maupun kesehatan warga,” ujar Harminsyah, Kamis (05/11/2026).
Menurutnya, informasi mengenai kondisi lingkungan maupun kesehatan yang ditemukan masyarakat perlu diteruskan melalui komunikasi yang baik. Dengan demikian, pemerintah dapat memperoleh gambaran mengenai persoalan yang membutuhkan perhatian dan menentukan langkah penanganan lebih awal.
“Kalau informasi dari bawah cepat disampaikan, pemerintah juga bisa lebih cepat bertindak,” katanya.
Harminsyah memandang keberadaan pengurus lingkungan dan kelompok masyarakat dapat menjadi penghubung penting dalam penyampaian informasi tersebut. Mereka memiliki kedekatan dengan warga sekaligus memahami situasi yang berkembang di wilayah masing-masing.
Unsur masyarakat yang dapat dilibatkan meliputi ketua RT, kader kesehatan, tokoh agama, tokoh masyarakat, hingga lembaga swadaya masyarakat. Keterlibatan berbagai pihak tersebut diharapkan dapat membantu memperlancar penyampaian informasi mengenai persoalan kesehatan.
“Tokoh masyarakat, tokoh agama, ketua RT, kader, dan LSM bisa menjadi sumber informasi awal bagi pemerintah,” tuturnya.
Ia menilai upaya memperkuat komunikasi kesehatan tidak selalu harus dimulai dengan membentuk kelompok baru. Jejaring sosial yang telah terbentuk di tengah masyarakat dapat dimanfaatkan untuk mendukung penyampaian informasi dan meningkatkan kepedulian terhadap kesehatan lingkungan.
“Jaringannya sudah ada di masyarakat, tinggal kita kuatkan fungsinya,” tegasnya.
Selain membantu menyampaikan kondisi di lapangan, keterlibatan pengurus lingkungan juga dapat mendukung kegiatan edukasi kesehatan. Informasi mengenai kebersihan, perilaku hidup sehat, dan langkah pencegahan penyakit dapat disampaikan melalui pihak yang memiliki hubungan dekat dengan masyarakat.
Pendekatan tersebut dinilai penting karena persoalan kesehatan tidak selalu memiliki karakteristik yang sama di setiap wilayah. Kondisi permukiman, kebiasaan masyarakat, serta persoalan lingkungan dapat memengaruhi kebutuhan penanganan di masing-masing kawasan.
Dengan memperoleh informasi langsung dari masyarakat, pemerintah diharapkan dapat menentukan program yang lebih sesuai dengan situasi dan kebutuhan setempat.
“Pendekatan berbasis komunitas membuat program lebih tepat sasaran karena sesuai kondisi di lapangan,” kata Harminsyah.
Harminsyah juga mengingatkan pentingnya mengubah pola penanganan kesehatan agar tidak hanya berfokus pada tindakan setelah munculnya persoalan. Upaya pencegahan perlu mendapat perhatian melalui pemantauan kondisi lingkungan dan komunikasi yang berkelanjutan.
“Jangan hanya menunggu masalah muncul. Upaya pencegahan harus diperkuat sebelum persoalan meluas,” jelasnya.
Menurutnya, keberadaan fasilitas kesehatan dan tenaga medis tetap menjadi bagian penting dalam pelayanan masyarakat. Namun, efektivitas upaya pencegahan juga membutuhkan keterlibatan warga untuk menjaga kebersihan serta menyampaikan informasi apabila menemukan kondisi yang berpotensi mengganggu kesehatan.
Partisipasi masyarakat tersebut diharapkan dapat memperkuat hubungan antara kebutuhan warga dan pelayanan yang disediakan pemerintah.
“Keberhasilan kesehatan juga ditentukan oleh kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan dan melaporkan potensi masalah,” pungkasnya. (Adv)
