BERI.ID – Sebanyak 32 lampu sorot berdaya 260 watt, 28 lampu sorot 480 watt, serta sekitar 20 unit Penerangan Jalan Umum (PJU), di Jembatan Mahkota II Samarinda raib digondol maling.
Padamnya puluhan titik penerangan ini membuat keselamatan pengguna jalan dalam kondisi rentan, terutama pada malam hari saat arus lalu lintas masih padat.
Kondisi gelap terlihat di beberapa sisi jembatan yang selama ini menjadi penghubung vital antarwilayah.
Minimnya pencahayaan bukan hanya mengurangi kenyamanan berkendara, tetapi juga meningkatkan potensi kecelakaan, khususnya bagi pengendara roda dua yang sangat bergantung pada visibilitas jalan.
Dinas Perhubungan (Dishub) Samarinda menegaskan bahwa persoalan tersebut bukan disebabkan oleh kerusakan lampu maupun gangguan teknis pada peralatan.
Berdasarkan hasil penelusuran di lapangan, sumber masalah justru berasal dari hilangnya kabel instalasi penerangan, yang berfungsi menyalurkan listrik antartitik lampu di jembatan tersebut.
Pelaksana Tugas Kepala Bidang Prasarana Dishub Samarinda, Ayatullah, menyampaikan bahwa perangkat lampu yang terpasang sebenarnya masih dalam kondisi layak pakai.
Gangguan terjadi karena jaringan penghubungnya terputus.
“Secara fisik lampunya tidak bermasalah. Yang terjadi adalah jalur listriknya tidak tersambung karena kabel penghubungnya diambil,” ungkapnya, Senin (12/1/2026).
Ia menjelaskan, sistem penerangan di jembatan bekerja secara berurutan.
Ketika satu bagian kabel terputus, maka lampu-lampu pada jalur setelahnya otomatis tidak mendapat pasokan listrik.
Hal inilah yang membuat jumlah titik padam cukup signifikan meski tidak semua kabel hilang di seluruh bentang jembatan.
Ayatullah mengakui bahwa penempatan kabel menjadi salah satu celah kerawanan.
Kabel berada di bagian luar struktur jembatan dan tidak memungkinkan untuk ditanam permanen ke dalam konstruksi.
“Kalau dipaksakan masuk ke struktur, justru bisa menimbulkan persoalan baru. Dari sisi keamanan, posisi kabel memang tidak ideal,” jelasnya.
Ia juga menyebut bahwa pencurian kabel di fasilitas umum telah berulang kali terjadi di Samarinda.
Selain berdampak pada kerusakan layanan publik, aksi tersebut menimbulkan beban tambahan bagi pemerintah daerah.
“Ini bukan kejadian pertama. Setiap kali terjadi, yang terdampak bukan hanya pemerintah, tapi juga masyarakat pengguna fasilitas,” katanya.
Dari sisi anggaran, Dishub memperkirakan kerugian sementara berada di kisaran ratusan juta rupiah.
Perhitungan detail masih dilakukan untuk menentukan bagian mana yang cukup disambung kembali dan mana yang harus diganti secara menyeluruh.
Lebih jauh, Ayatullah menekankan bahwa dampak terbesar dari peristiwa ini adalah hilangnya rasa aman bagi masyarakat.
Jembatan Mahkota II yang seharusnya menjadi ikon dengan pencahayaan maksimal justru berada dalam kondisi gelap.
“Penerangan itu bukan soal estetika semata, tapi soal keselamatan. Begitu gelap, risikonya langsung naik,” tegasnya.
Dishub Samarinda mengimbau pengguna jalan agar lebih berhati-hati saat melintas, khususnya pada malam hari.
Masyarakat juga diminta ikut berperan aktif menjaga fasilitas publik dengan melaporkan apabila menemukan aktivitas yang mencurigakan di sekitar jembatan.
“Fasilitas ini dibangun untuk kepentingan bersama. Kalau ada yang merusak atau mencuri, dampaknya kembali ke masyarakat. Karena itu kami harap ada kepedulian bersama,” tutup Ayatullah. (lis)
