Sekolah Rakyat Samarinda Sudah Mulai MPLS, Siswa Dapat Makan 3 Kali Sehari! Ada Snack Berkala

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat Terintegrasi 24, di Gedung Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kaltim, Jumat (15/8/2025). (Foto: Lisa/ beri.id)

BERI.ID – Sekolah Rakyat di Samarinda sudah memulai aktifitasnya untuk mulai belajar mengajar, dimulai dengan diadakannya Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah.

Kepala Rintisan Sekolah Rakyat, Hasyim, menjelaskan MPLS kali ini ini mengusung pendekatan berbeda.

Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tidak hanya berisi orientasi umum, melainkan tes talent untuk memetakan bakat siswa sejak awal, yang akan dilaksanakan Sabtu (16/8/2025) besok.

Dengan sistem modular, lanjutnya, siswa bisa fokus ke potensi terbaiknya.

“Besok kita langsung tes talent untuk memetakan bakat siswa. Kita ingin tahu anak-anak ini cocok ke mana, supaya pembelajaran ke depan benar-benar fokus pada potensi terbaiknya,” ujar Hasyim.

Lanjutnya, MPLS bukan sekadar orientasi umum seperti di sekolah reguler.

Di hari-hari awal, siswa akan mendapat pengenalan tentang tujuan, misi, dan struktur tenaga pendidik, termasuk wali asrama dan guru pendamping, agar jelas siapa menangani apa.

“Kita ingin membangun disiplin sejak awal. Hidup di asrama menuntut kedisiplinan dan kebersihan tinggi. Kalau satu anak sakit gatal dan tidak ditangani, bisa langsung menular ke lainnya. Maka, materi dasar kesehatan jadi prioritas,” jelasnya.

Semua Kebutuhan Siswa Dijamin Negara

Hasyim menegaskan seluruh kebutuhan dasar siswa dipenuhi negara. Mulai dari makan tiga kali sehari, snack berkala, perlengkapan mandi, hingga pemeriksaan kesehatan rutin.

Sistem belajar menggunakan modul berbasis LMS (Learning Management System), memungkinkan siswa menuntaskan target belajar sesuai kemampuan.

“Kalau ada anak yang sudah mencapai kompetensi, modulnya tinggal dicentang. Sementara potensi terbesarnya akan kita kembangkan lebih jauh. Misalnya ada yang ingin jadi polisi atau tentara, kita mulai pembinaan fisiknya sejak awal. Mata pelajaran yang tidak mendukung minat itu bisa disesuaikan,” kata Hasyim.

Sekolah ini juga menyiapkan ruang bimbingan publik di luar kelas.

“Kalau ada siswa kesulitan memahami materi, guru tetap mendampingi di luar jam kelas formal. Jadi tidak ada anak yang tertinggal,” tambahnya.

Penundaan Bukan Karena Samarinda Tidak Siap

Sekolah Rakyat Terintegrasi 24 semula dijadwalkan dibuka 1 Agustus 2025, namun mundur ke 15 Agustus mengikuti penyesuaian jadwal nasional.

Hasyim menegaskan penundaan bukan karena fasilitas di Samarinda tidak siap.

“Secara fisik kita lebih siap dibanding daerah lain. Gedung dan sarana sudah lengkap, hampir tidak ada istilah renovasi besar. Kita ikut saja keputusan nasional karena program ini serentak,” ungkapnya.

Hasyim menyebut sekolah ini menjadi salah satu proyek pendidikan terintegrasi terbaik di Indonesia, berkat dukungan pemerintah pusat dan sinergi pemerintah daerah.

Namun ia mengingatkan, keberhasilan sekolah tidak bisa hanya diukur dari kelengkapan gedung dan perlengkapan, tetapi dari keseriusan semua pihak menjaga mutu.

“Negara sudah menanggung biaya penuh, tapi komitmen daerah tetap penting. Jangan berhenti hanya karena ini program pusat,” tuturnya.

Tantangannya, ungkap Hasyim, adalah memastikan konsep besar ini tidak berhenti di tahap peresmian, tetapi benar-benar membentuk generasi unggul sesuai potensi masing-masing anak.

Sementara itu, Wali Kota Samarinda Andi Harun, dalam Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) Sekolah Rakyat Terintegrasi 24, mengingatkan pesan penting bahwa program nasional tidak akan sukses jika daerah hanya berpangku tangan.

Ia menyoroti fasilitas yang telah tersedia, mulai dari ruang belajar, asrama, musala, ruang guru, kamar wali asrama, hingga WC dan perlengkapan siswa.

“Semuanya siap, bahkan melebihi ekspektasi. Model pengelolaannya setara sekolah modern di luar negeri,” kata Andi Harun, usai MPLS, di Gedung Balai Penjaminan Mutu Pendidikan (BPMP) Kaltim, Jumat (15/8/2025).

Ia mengapresiasi dukungan Presiden Prabowo Subianto melalui Kementerian Sosial, Kementerian Pendidikan Nasional, dan Kementerian PUPR.

Namun, ia menegaskan komitmen pemerintah daerah untuk tidak sekadar menjadi penonton dan Pemkot Samarinda wajib mendukung.

“Tidak boleh mentang-mentang ini program nasional lalu kita lepas tangan. Kerja besar tidak bisa hanya ditopang satu pihak,” tegasnya.

Sekolah Rakyat Samarinda diharapkan menjadi model pendidikan gratis berkualitas di Indonesia, dengan fasilitas modern dan kurikulum fleksibel.

Namun, Andi Harun mengingatkan, kesuksesan tidak hanya diukur dari pembukaan gedung atau kecanggihan fasilitas.

“Kita bersyukur Kota Samarinda terpilih. Tapi tugas kita bukan berhenti di sini. Kalau ada kekurangan, daerah wajib turun tangan. Jangan menunggu pusat. Ini soal masa depan anak-anak, bukan soal siapa yang membiayai,” tuturnya.

Dukungan Orang Tua dan Harapan Siswa

Asmirawati, salah satu orang tua siswa yang anaknya diterima di sekolah tersebut, mengaku sangat terbantu.

“Terbantu sekali saya, terima kasih banyak, anak saya bisa sekolah di sini,” ujarnya.

Proses penerimaan siswa, jelas Asmirawati, dilakukan melalui kunjungan pihak kelurahan ke rumah warga.

“Iya, dijelaskan semuanya. Mereka datang ke rumah dan menawarkan sekolah ini,” ungkap Asmirawati.

Selain itu, konsep sekolah asrama menjadi tantangan tersendiri. Anak-anak harus tinggal terpisah dari orang tua selama periode tertentu.

“Tidak apa-apa, yang penting untuk kemajuan anak. Seminggu sekali bisa dijemput pulang, terutama saat hari Minggu atau tanggal merah,” katanya.

Sementara itu, Husna Miranti, siswi SMP Sekolah Rakyat, mengaku sangat terbantu dengan adanya sekolah tersebut, terlebih semua fasilitas gratis dan tidak memberatkan.

“Saya mau sekolah di sini karena nggak bayar. Harapannya dapat buku, seragam, dan fasilitas lain. Meski jauh dari orang tua, nggak masalah,” tutupnya. (lis)

Exit mobile version