BERI.ID – Proses perencanaan revitalisasi Pasar Segiri terus berjalan, meskipun anggaran masih bergantung pada kemampuan daerah dan peluang bantuan dari pusat.
Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kota Samarinda, Marnabas Patiroy, menegaskan bahwa bahwa hingga kini belum ada keputusan terkait pemindahan sementara pedagang Pasar Segiri ke eks Bandara Temindung.
Persoalan ini tidak dapat diputuskan secara tergesa-gesa mengingat kondisi fiskal daerah masih dalam masa efisiensi.
Pemkot terus mengupayakan berbagai jalur pendanaan, termasuk membuka komunikasi dengan pemerintah pusat.
Saat ini diakuinya seluruh pihak masih bergerak hati-hati sambil menyesuaikan langkah dengan kemampuan fiskal daerah.
Pemerintah daerah membuka berbagai kemungkinan, termasuk peluang bantuan dari pemerintah pusat melalui mekanisme yang tersedia, seperti Dana Alokasi Khusus (DAK) dari Kementerian Perdagangan.
“Peluang tersebut terbuka, mengingat DAK fisik memang tersedia untuk sektor perdagangan,” beber Marnabas, Jumat (28/11/2025).
Untuk itu, Pemkot Samarinda berharap pemerintah pusat turut melihat strategisnya Pasar Segiri bagi distribusi bahan pangan di Kalimantan Timur.
Meski belum pasti di mana pedagang akan dipindahkan sementara, Marnabas memastikan bahwa proses perencanaan tetap berjalan.
Sejumlah lokasi tengah dikaji, mulai dari Segiri 2 di Jalan DI Panjaitan hingga beberapa alternatif lainnya.
Karakter Pasar Segiri menurutnya sangat berbeda dengan pasar-pasar sebelumnya membuat penanganannya lebih kompleks.
“Pasar Segiri ini spesifik. Tidak seperti Pasar Pagi yang sebagian besar pedagangnya pakaian, yang bisa dialihkan ke SGS atau Sungai Dama. Segiri ini pasar basah, pasar hidup. Sirkulasi komoditasnya berjalan 24 jam. Itu yang membuat perencanaannya tidak bisa sembarangan,” ujar Marnabas.
Dalam hal pembiayaan, ia tidak menutup kemungkinan adanya dukungan signifikan dari pusat pada tahun 2026, tahun yang diprediksi menjadi momentum pemulihan fiskal daerah.
Karena itu, Pemkot tidak ingin terpaku pada satu sumber pendanaan.
“Namanya perencanaan, kalau perlu kita cari sampai ke langit kalau ada jalannya. Selama tidak melanggar aturan, kita cari semua peluang. Bisa lewat kementerian, bisa lewat skema lain. Yang penting konsepnya sudah siap,” tegasnya.
Meskipun efisiensi anggaran menjadi kendala utama, Pemkot tetap menempatkan revitalisasi Pasar Segiri sebagai prioritas.
Marnabas menegaskan bahwa kondisi pasar yang menjadi pusat distribusi komoditas penting, mulai dari sayur, kentang, bawang, hingga cabai, tidak bisa dibiarkan tanpa pembenahan.
Aktivitas di pasar itu berlangsung tanpa henti, menjadikannya simpul ekonomi vital yang melayani masyarakat Samarinda hingga wilayah sekitar.
“Pasar Segiri itu pasar terbesar. 24 jam hidup. Di sana bahan pangan utama seperti bawang, kol, kentang, semuanya bergerak. Distribusinya keluar masuk Samarinda. Karena itu revitalisasi ini wajib, hanya tinggal bagaimana mencari waktu dan pendanaannya,” terangnya.
Dari sisi teknis, Detail Engineering Design (DED) untuk revitalisasi disebut sudah rampung dan terus disempurnakan.
Namun proses penyesuaian masih dilakukan, terutama terkait kebutuhan anggaran yang awalnya mencapai Rp300 miliar.
Pemkot diminta menekan kembali angka itu hingga mencapai target sekitar Rp200 miliar.
“DED-nya sudah matang. Tapi ini masih direvisi lagi karena anggarannya masih di atas Rp200 miliar. Dulu sempat dicanangkan Rp300 miliar. Sekarang targetnya Rp200 miliar,” ungkapnya.
Marnabas memastikan desain yang disiapkan tidak meniru konsep Pasar Pagi yang semi-mal.
Pasar Segiri akan tetap mempertahankan karakter pasar rakyat, dengan sistem zonasi yang menata pedagang secara lebih teratur, mulai dari pedagang ikan, sayur mayur, hingga kebutuhan pokok lainnya.
“Konsepnya beda dengan Pasar Pagi. Ini pasar rakyat. Fokusnya bahan pangan dan bapokting. Zonasinya kita atur supaya lebih tertata,” jelasnya.
Ketika ditanya apakah proyek ini sudah masuk dalam APBD 2026, Marnabas mengatakan bahwa usulan sudah diajukan, namun belum dapat dipastikan mengingat situasi efisiensi anggaran.
Meski demikian, pihaknya tetap menyiapkan seluruh skenario agar revitalisasi dapat berjalan.
“Anggaran kita kan dipangkas. Jadi harus pintar-pintar. Kita harus kreatif. Bisa saja nanti ada bantuan pusat,” katanya.
Seluruh rancangan kini telah berada di meja pemerintah, yang tinggal menunggu satu hal, yakni kepastian pendanaan.
“Yang penting kita siap dengan konsepnya. Tinggal menunggu rezekinya turun,” tutup Marnabas. (lis)
